Regional Sulawesi

Pulau Sulawesi sebagaimana digambarkan dalam peta memiliki bentuk yang unik seperti huruf ‘K’. Karena memang demikian kondisi geografisnya, selama ini Sulawesi tidak dianggap memiliki rasa kesatuan sendiri sebagai satu kesatuan wilayah. Bagian utara Sulawesi secara tradisional berhubungan dekat dengan Pilipina Selatan dan Maluku Utara. Bagian barat Sulawesi lebih berhubungan dengan Kalimantan Timur lewat Selat Makassar. Bagian timur Sulawesi berhubungan lama dengan kepulauan Maluku. Dan, bagian selatan Sulawesi memiliki hubungan ekonomi dan sosial dengan kepulauan Nusa Tenggara sampai bagian utara Australia. Maka, Sulawesi tidak dianggap sebagai kesatuan wilayah yang utuh dan tidak membagi nasib yang sama antara daerah-daerah di dalamnya.

Sulawesi adalah satu dari lima pulau besar di Indonesia. Pulau ini merupakan gabungan dari empat jazirah yang memanjang dengan barisan pegunungan berapi aktif pada lengan jazirah, beberapa di antaranya mencapai ketinggian diatas 3.000 meter diatas permukaan laut. Sulawesi didominasi oleh dataran tinggi atau sekitar 75% dari total luas wilayah pulau ini.

Terdapat cukup banyak suku (sub-etnis) di dalam wilayah Sulawesi walaupun sebagian besar masyarakat Sulawesi berada dalam satu wilayah daratan. Suku-suku tersebut di atas memiliki pranata adat, struktur adat dan proses pengambilan kebijakan/keputusan secara adat yang dihormati oleh masing-masing suku.

Secara umum masyarakat Sulawesi adalah masyarakat agraris yang menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian dan perkebunan. Hasil pertanian utama di Sulawesi adalah padi, jagung dan kacang-kacangan. Sedangkan hasil perkebunannya adalah kopi, cengkeh, coklat, kelapa dan vanili. Masyarakat Sulawesi, khususnya di daerah pesisir, juga terkenal sebagai nelayan-nelayan yang handal. Hasil utama dari sektor kelautan di Sulawesi Selatan adalah beragam jenis ikan, udang, serta rumput laut. Pengembangan usaha pertanian, perkebunan dan kelautan di Sulawesi terbilang cukup maju. Namun terdapat dua kendala besar yang dihadapi di wilayah ini, yakni peningkatan produksi dan pemasaran.

Bahan tambang juga merupakan salah satu sumberdaya alam yang cukup penting dalam menopang perekonomian Sulawesi, selain pertanian, perkebunan dan perikanan. Sumberdaya mineral yang menjadi andalan di Sulawesi adalah nikel, emas, dan gas alam.

Berada dalam kawasan Wallacea, Pulau Sulawesi memiliki banyak fauna endemik, di antaranya adalah Anoa, kera hitam Sulawesi (Macaca nigra), burung maleo sen-kawor (Macrochepalon maleo), dan berbagai jenis kupu-kupu yang menarik. Hutan adalah komunitas vegetasi yang paling kaya di Sulawesi. Hutan dataran rendah dan perbukitan bawah adalah jenis hutan yang mengandung jumlah jenis pohon terbanyak di antara semua tipe hutan di Sulawesi. Famili terbanyak yang dijumpai di hutan-hutan Sulawesi adalah Syzigium, Dysoxylum, Eucalyptus deglupta, berbagai jenis palem dan pandan. Pesisir Sulawesi dikelilingi oleh terumbu karang yang memanjang dan pantai-pantai berbatu atau berpasir. Ada juga hutan-hutan rawa air tawar, mangrove, serta danau namun lokasinya terbatas dan menjadi sasaran pemukiman.

Pembangunan industri di Sulawesi mengalami banyak kemajuan dalam era reformasi. Hal ini terlihat dengan banyaknya investor dibidang jasa telekomunikasi, manufaktur dan perkebunan. Beberapa jenis Industri dengan skala besar dan menengah dibangun untuk menampung hasil sumberdaya alam seperti industri pengo-ahan ikan. Walaupun demikian terdapat penurunan dalam industri pengolahan hasil hutan, seperti industri pengolahan rotan menyusul terjadinya perubahan kebijakan pengelolaan hutan dan kenaikan harga bahan bakar.

Selain potensi sumberdaya alam Sulawesi yang terbilang cukup relevan dalam mendukung pembangunan di wilayah ini, letak dan karakteristik geografisnya juga menunjang dalam pengembangan prasarana pendukung pembangunan. Oleh karena tidak kurang dari 80% wilayah Sulawesi adalah daratan, maka hampir seluruh daerah dalam wilayah ini dapat dihubungkan dengan jalan darat. Tentu saja hal tersebut berdampak pada lancarnya arus perekonomian antar provinsi di dalam wilayah Sulawesi. Selain itu terdapat dua bandar udara internasional yaitu Bandara Hasanuddin di Sulawesi Selatan dan Sam Ratulangi di Sulawesi Utara.
Walaupun demikian, pembangunan infrastruktur relatif belum merata di seluruh wilayah Sulawesi. Masih terdapat beberapa daerah yang belum dijangkau fasilitas umum yang layak, seperti sarana dan pra-sarana transportasi dan komunikasi, sehingga masih ada daerah yang mengalami kesulitan mengakses informasi.
Dalam hal administratif pemerintahan, dua provinsi termuda di Sulawesi, yakni Sulawesi Barat dan Gorontalo, menghadapi persoalan kompleks dalam hal pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum, penataan birokrasi, dan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia untuk mengoptimalkan pelayanan publik.

Tantangan lain dalam pembangunan di Sulawesi adalah cukup tingginya laju pertambahan penduduk di wilayah ini yang tidak seiring dengan peningkatan lapangan kerja yang memadai. Hal ini berdampak pada semakin tingginya angka pengangguran dan meningkatnya angka kemiskinan di wilayah ini setiap tahunnya.

Realisasi Jalan Trans-Sulawesi antara Makassar dan Manado pada tahun 1980-an itulah mulai mengubah imaj Sulawesi sampai saat itu, meskipun ciri khas keterpisahan di Sulawesi belum bisa berubah secara drastis. Perubahan itu dapat dilihat saat ini, misalnya, kentang dari daratan tinggi Desa Modoinding di Sulut cukup terkenal di pasar tradisional di Makassar, Sulsel. Ada berbagai jalur bis jarak jauh ditempuh lewat Jalan Trans-Sulawesi seperti Makassar-Manado, Makassar-Palu, Makassar-Poso, Toraja-Palu, dan lain-lainnya. Dengan perkembangan transportasi interaksi ini, Sulawesi makin mulai dianggap sebagai kesatuan wilayah.

Pada September 2000, empat pemprov di Sulawesi, yaitu Sulut, Sulteng, Sulsel dan Sultra (catatan: saat ini enam pemprov termasuk Gorontalo dan Sulbar), menyatakan membentuk Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) untuk mendorong kerjasama antar daerah di Sulawesi. BKPRS merupakan instansi pertama di Indonesia yang bertujuan menjalin kerjasama antar daerah, disusul oleh upaya yang sama di Sumatera, Kalimantan dan Jawa-Bali. Namun, upaya kerjasama antar daerah di Sulawesi tidak begitu mudah direalisasikan karena masih muncul konflik kepentingan antara pemda dengan penerapan desentralisasi sejak tahun 2001 dan pilkada sejak tahun 2005 setelah Pilpres pertama pada tahun 2004. Dengan keadaan ini, BKPRS juga belum bisa berfungsi baik seperti yang diharapkan pada tahun 2000.

Padahal, rasa kesatuan wilayah Sulawesi ingin dimanfaatkan oleh pemprov-pemprov Sulawesi secara strategis untuk memperkuat daya bargaining terhadap pemerintah pusat agar menerima alokasi dana dan perhatian yang lebih besar dalam urusan pembangunan daerah Sulawesi. Upaya kerjasama antar daerah terlihat umumnya di tingkat kabupaten/kota dalam bentuk studi banding antar daerah.

Koridor Ekonomi Sulawesi


Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
Koridor Ekonomi Sulawesi


Masterplan Ekonomi SulawesiTerdiri dari 6 Pusat Ekonomi: Palu, Gorontalo, Manado, Makassar, Kendari dan Mamuju

Koridor Ekonomi Sulawesi mempunyai tema Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan, dan Pertambangan Nikel Nasional.

Koridor ini diharapkan menjadi garis depan ekonomi nasional terhadap pasar Asia Timur, Australia, dan Amerika. Koridor Ekonomi Sulawesi memiliki potensi tinggi di bidang ekonomi dan sosial dengan kegiatan-kegiatan unggulannya. Meskipun demikian, secara umum terdapat beberapa hal yang harus dibenahi di Koridor Ekonomi Sulawesi:

Pembangunan Koridor Ekonomi Sulawesi berfokus pada kegiatan-kegiatan ekonomi utama pertanian pangan, kakao, perikanandan nikel. Selain itu, kegiatan ekonomi utama minyakdan gas bumidapat dikembangkan yang potensial untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi di koridor ini.

Daftar Investasi Infrastruktur yang Teridentifikasi di Koridor Sulawesi

PEMERINTAH

No Proyek MP3EI Nilai Investasi (IDR Miliar) Periode Mulai Periode Selesai Lokasi
1 Peningkatan jalan dari Siwa - Pare-pare - Barru -Maros - Makassar (293 km) 971 2012 2014 Sulawesi Selatan
2 Peningkatan Jalan Parigi - Poso - Tentena - Tidantana (Batas Sulsel) (298 km) 709 2013 2014 Sulawesi Tengah
3 Peningkatan jalan mendukung kegiatan tambang/ industri nikel di Kolaka Utara menuju ke Pelabuhan Lasususa (132 km) 294 2012 2014 Sulawesi Tenggara
4 Peningkatan Jalan Kendari - Asera 280 2012 2014 Sulawesi Tenggara
5 Satker Sementara Pembangunan Faspel Laut Garongkong 252 2011 2014 Sulawesi Selatan
6 Peningkatan Jalan Maros-Watampone-Pelabuhan Bajoe (150,74 km) 235 2011 2014 Sulawesi Selatan
7 Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Gorongkong, Sulawesi Selatan 217 2011 2015 Sulawesi Selatan
8 Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Tahuna 215 2011 2014 Sulawesi Utara
9 Peningkatan jalan dari Batas Sultra - Malili - Masamba - Palopo - Siwa (318 km) 213 2012 2014 Sulawesi Selatan
10 Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Bungkutok, Sulawesi Tenggara 186 2011 2014 Sulawesi Tenggara
11 Unit Penyelenggara Pelabuhan Lirung 182 2011 2014 Sulawesi Utara
12 Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Bitung, Sulawesi Utara 173 2011 2015 Sulawesi Utara
13 Peningkatan Jalan Sp-Torobulu-Lainea-Kendari (127 km) 167 2012 2014 Sulawesi Tenggara
14 Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Pantoloan, Sulawesi Tenggara 161 2011 2014 Sulawesi Tengah
15 Satker Sementara Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Bitung - Sulut 155 2011 2014 Sulawesi Utara
16 Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Anggrek, Gorontalo 142 2011 2013 Gorontalo
17 Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Gorontalo 135 2011 2013 Gorontalo
18 Pelabuhan Bau - Bau 126 2011 2014 Sulawesi Tenggara
19 Pelabuhan Raha 114 2011 2014 Sulawesi Tenggara
20 Peningkatan Jalan Majene - Polewali (49,8 km) 104 2011 2013 Sulawesi Barat

BUMN

No Proyek MP3EI Nilai Investasi (IDR Miliar) Periode Mulai Periode Selesai Lokasi
1 Pembangunan Proyek DS LNG, Kab. Mamuju, Sulawesi Barat 5.602 2011    
2 Pembangunan PLTM Ratelimbong-Kolaka 2MW, PLTU Sulsel Baru 2,50MW, PLTG Sulsel Baru 50MW & 100MW, PLTD Selayar 2MW 5.174 2011 2014 Sulawesi Selatan
3 Pembangunan PLTM (Sansarino 1MW; Tomini II 2x1MW; Sawidago II 1MW), PLTU (Leok 2x3MW; Kolonodale 2x3MW; Ampana 2x3MW; Toli-toli 2x3 MW; Bangkir 2x3 MW; Tambu 2x3MW), PLTG Luwuk 10MW 3.469 2011 2015 Sulawesi Tengah
4 Pembangunan PLTP Kotamobagu 4x20MW, Kab. Kotamobagu, Sulawesi Utara 2.540 2014 2015 Sulawesi Utara
5 Pembangunan Jaringan Transmisi Prov. Sulawesi Tengah 1472 km 1.888 2011 2015 Sulawesi Tengah
6 Pembangunan PLTU (Kendari 2x10MW; Wangi-wangi 2x3MW; Raha 2x3MW), PLTM Rongi 1MW, PLTD Raha 3MW 1.020 2011 2015 Sulawesi Tenggara
7 Pembangunan Jaringan Transmisi Prov. Sulawesi Selatan 757 km 917 2011 2015 Sulawesi Selatan
8 Pembangunan PLTU Gorontalo Baru (2x25 MW) 880 2011   Gorontalo
9 Pengembangan WKP Marana (20 MW), Sulawesi Tengah 640 2011 2015 Sulawesi Tengah
10 Pembangunan Jaringan Transmisi Prov. Sulawesi Tenggara 1.000 km 554 2011 2013 Sulawesi Tenggara
11
Pembangunan Gardu Induk di Prov. Sulawesi Selatan 552 2011 2015 Sulawesi Selatan
12 Pembangunan Jaringan Transmisi Prov. Gorontalo 746 km 413 2011 2015 Gorontalo
13 Pembangunan Gardu Induk di Prov. Sulawesi Utara 330 2011 2015 Sulawesi Utara
14 Pembangunan Gardu Induk di Prov. Sulawesi Tengah 322 2011 2015 Sulawesi Tengah
15 Pembangunan Gardu Induk di Prov. Sulawesi Tenggara 273 2011 2014 Sulawesi Tenggara
16 Pembangunan PLTM (Bonehau 2x2MW; Budaong-Budaong 2x1MW; Kalukku 1MW, Balla 1MW), 192 2011   Sulawesi Barat
17 Pembangunan Jaringan Transmisi Prov. Sulawesi Utara 228 km 126 2011 2014 Sulawesi Utara
18 Pembangunan Gardu Induk di Prov. Gorontalo 125 2011 2015 Gorontalo
CAMPURAN
No Proyek MP3EI Nilai Investasi (IDR Miliar) Periode Mulai Periode Selesai Lokasi
1 Mengembangkan device bagi end-user di Sulawesi 19.110 2012 2014 Sulawesi
2 Pembangunan dan pengembangan Backhaul, Access, NOC, Service Center, Ecosystem Development, Infrastructure 10.580 2012 2014 Sulawesi
3 Membangun jaringan Backbone Nasional (Palapa Ring) berbasiskan active network sharing, baik jaringan bawah laut maupun terestrial yang bisa dipakai bersama di Sulawesi 3.847 2012 2014 Sulawesi
4 Perluasan Pelabuhan Makassar 2.220 2011 2014 Sulawesi Selatan
5 Pembangunan Jalan Tol Manado-Minut-Bitung/Pembangunan Jalan Express Way Manado - Bitung (49 km) 1.732 2011 2014 Sulawesi Utara
6 Pembangunan infrastruktur penunjang ekspor hasil perikanan Bitung 500 2011 2015 Sulawesi Utara
7 Perluasan Pelabuhan Bitung 414 2011 2015 Sulawesi Utara

Sulawesi Utara

Peta Provinsi Sulawesi Utara

Pada tanggal 23 September 1964, Pemerintah Republik Indonesia memberlakukan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 yang menetapkan perubahan status Daerah Tingkat I Sulawesi Utara-Tengah dengan menjadikan Sulawesi Utara sebagai Daerah Otonom Tingkat I, dengan Manado sebagai Ibukotanya. Sejak saat itu, secara de facto Daerah Tingkat I Sulawesi Utara membentang dari Utara ke Selatan Barat Daya, dari Pulau Miangas ujung utara di Kabupaten Sangihe Talaud sampai Molosipat di bagian Barat Kabupaten Gorontalo.

Dalam perjalanan panjang sampai dengan Tahun 2000, Wilayah Administrasi Provinsi Sulawesi Utara terdiri dari 5 Kabupaten dan 3 Kotamadya, yaitu : Kabupaten Minahasa, Bolaang Mongondow, Gorontalo, Sangihe dan Talaud, Boalemo serta Kotamadya Manado, Bitung dan Gorontalo. Selanjutnya, seiring dengan Nuansa reformasi dan otonomi daerah, maka telah dilakukan pemekaran wilayah dengan terbentuknya Provinsi Gorontalo sebagai hasil pemekaran dari Propinsi Sulawesi Utara melalui UU No. 38 Tahun 2000. Pada tahun 2002 dan 2003 Propinsi Sulawesi Utara ketambahan Kabupaten Talaud berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 2002 yang merupakan hasil pemekaran Kabupaten Sangihe dan Talaud. Selanjutnya terbentuk Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon berdasarkan Undang-Undang No. 10 Tahun 2003 serta Kabupaten Minahasa Utara berdasarkan Undang-Undang No. 33 Tahun 2003. Ketiga daerah tersebut adalah hasil pemekaran Kabupaten Minahasa.

Propinsi Sulawesi Utara memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan bervariasi meliputi berbagai sektor seperti pertambangan, pariwisata, perindustrian, pertanian dan lain-lain. Sektor pertanian yang meliputi peternakan, perkebunan, tanaman pangan, perikanan menjadi sektor dominan di Sulawesi Utara sesuai dengan kondisi dimana propinsi ini merupakan daerah agraris. Dari sektor pertanian dihasilkan kelapa, cengkih, pala, kopi, vanilla. Dari sub-sektor perikanan dihasilkan tuna, cakalang, kerapu, rumput laut dan lain-lain, yang sudah diekspor dalam volume besar ke pasar Asia, Eropa, dan Amerika. Di samping produk sektor pertanian yang diusahakan oleh masyarakat pertanian Sulawesi Utara juga memiliki sumber daya alam pertambangan dan pariwisata yang menunggu untuk dikelola oleh para investor.

Produk Unggulan

Sulawesi Utara telah ditetapkan sebagai satu dari lima daerah tujuan wisata dan satu dari 10 daerah yang dapat menyelenggarakan MICE memiliki objek-objek wisata yang cukup menarik diantaranya Wisata Bahari antara lain Taman Laut Bunaken, Pulau Siladen, Mantehage dan hamparan Taman Laut di Sangihe Talaud, dan Bolaang Mongondow. Wisata Alam antara lain; Taman Nasional Dumoga Bone di Bolaang Mongondow, Cagar Alam Tangkoko Batu Angus di Bitung, Danau Tondok, Gunung Ambang di Bolaang Mongondow dan Sumaru Endo di Danau Tondano. Wisata Peninggalan Sejarah Budaya berupa Kuburan Tua/ Waruga di Sawangan, dan Gua Peninggalan Jepang di Kawangkoan. Wisata Religi antara lain; Bukit Kasih dan Bukit Doa Pinaling. Wisata Pantai antara lain; Pantai Tasik Ria, Pantai Kalasei, Pantai Hais, Pantai Kora-Kora dan Pantai Tanjung Merah di Minahasa, Pantai Molas di Manado, Pantai Molosing dan Labuan Uki di Bolaang Mongondow. Wisata Pemandian Air Panas banyak tersebar di Minahasa bagian tengah seperti di Tondano, Remboken, Passo dan Langowan. Wisata Tirta, untuk jenis wisata ini dapat dinikmati pada hampir semua sungai dan danau yang ada di daerah ini, seperti Danau Tondano dan DAS Tondano serta Danau Moat di Minahasa.

Untuk menunjang kinerja sektor pariwisata ini, terutama aktivitas turis yang berkunjung ke daerah ini baik wisatawan domestik maupun mancanegara, maka telah tersedia sarana dan prasarana seperti; Hotel (taraf Melati s/d berbintang empat), Restoran, dan Industri Wisata serta Art Shop.

Produk-produk Unggulan Sulawesi Utara antara lain:

1. Pala
Komoditas pala merupakan produk unggulan bagi Sulut, ditandai semakin beragamnya negara pembeli, dengan volume maupun nilai ekspor cenderung bertumbuh. Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengekspor produk turunan pala sebanyak 31,4 ton pada pekan kedua Maret 2011 dengan devisa diperoleh 441.350 dolar AS. ekspor 10 ton bunga pala ke Italia mendatangkan devisa sebanyak 260.000 dolar AS, atau bila dihitung per unit dengan mata uang rupiah kurs saat ini berarti harga jualnya sekitar Rp234 ribu per kg.

Sedangkan biji pala yang berhasil diekspor ke Italia, tercatat sebanyak 15 ton dengan devisa dihasilkan 162.000 dolar AS, sedangkan serbuk pala dengan 6.450 Kg mendatang devisa sebanyak 19.350 dolar AS. Sulut merupakan produsen pala terbesar di Indonesia, dan pemasok terbesar untuk memenuhi kebutuhan dunia, hanya saja meskipun sebagai produsen terbesar tetapi disayangkan belum menjadi penentu harga pala dunia.

2. Ikan Kaleng
Sulawesi Utara mempunyai kapal penangkap ikan dengan kapasitas lebih dari 30 GT. Posisi yang strategis yaitu dikelilingi laut Banda, laut Sulawesi dan Samudra Pasific membuat Sulawesi Utara sebagai penghasil ikan kaleng. Ikan Kaleng juga merupakan sector andalan Sulawesi Utara. Tingkat permintaan pasar internasional yang tinggi akan produk-produk olahan ikan membuat Sulawesi Utara sering mengekspor Ikan Kaleng ke luar negeri. Tingkat ekspor Ikan Kaleng senilai 14 juta USD. Di Jepang minat konsumsi Ikan Kaleng pun terus meningkat dari tahun ke tahun.

3. Rumput Laut
Sulawesi Utara terletak di laut terbuka yang sangat baik untuk pertumbuhan rumput laut secara alamiah. Rumput laut di Sulut belum terkontaminasi dengan limbah rumah tangga maupun limbah pabrik sehingga Permintaan produk-produk rumput laut terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan peningkatan industri makanan dan industri pupuk.

4. Kentang
Keadaan Iklim Sulawesi Utara yaitu Tropik, 300- 2000 M dpl, dengan Suhu rata-rata 15-200 c, dan Kelembaban udara 80 % - 90 % membuat Produk kentang menjadi produk unggulan Sulut. Keadaan tanah yang subur dan gembur mengandung bahan organik , (ph) 5,0 - 6,5 juga menjadi salah satu alasan kentang dapat menjadi salah satu produk yang diandalkan.

5. Minyak Kelapa
Provinsi Sulawesi Utara mengekspor minyak kelapa dalam bentuk kasar atau crude coconut oil (CCO) senilai 9,78 juta dolar AS ke Belanda dalam sepekan menjelang Natal 25 Desember 2010. Minyak kelapa kasar akan diolah lagi menjadi berbagai produk pangan maupun kebutuhan masyarakat lainnya. Minyak kelapa kasar selama ini menjadi produk unggulan Sulut, sebab selalu menjadi penyumbang devisa terbesar daerah ini, dengan volume tidak pernah kurang dari 50 persen dari total ekspor. Selain Belanda, minyak kelapa kasar mampu menembus beberapa negara termasuk kawasan Amerika, dengan harga yang terus menunjukkan peningkatan sejak tahun 2009 hingga akhir tahun 2010. Karena terus dominan dari tahun ke tahun, minyak kelapa kasar menjadi komoditas paling diandalkan untuk mendatangkan devisa bagi Sulut.

Peluang Investasi

Provinsi Sulawesi Utara memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan bervariasi meliputi berbagai sektor seperti pertanian, pariwisata, pertambangan, perindustrian, dan lain-lain. Sektor pertanian yang meliputi sub sektor peternakan, perkebunan, tanaman pangan, perikanan merupakan sektor dominan di Sulawesi Utara sesuai dengan kondisi dimana Provinsi ini merupakan daerah agraris dan kelautan.

Dari sub sektor perkebunan dihasilkan kelapa, cengkih, pala, kopi, vanilla. Sedangkan dari sub sektor perikanan dihasilkan tuna, cakalang, kerapu, rumput laut dan lain-lain, yang sudah diekspor dalam volume besar ke pasar Asia, Eropa, dan Amerika. Di samping produk sektor pertanian yang diusahakan oleh masyarakat pertanian Sulawesi Utara juga memiliki sumber daya alam pertambangan dan pariwisata yang menunggu untuk dikelola oleh para investor.Peluang Investasi di Sulawesi Utara diantaranya adalah :

1.   Industri Makanan Olahan Dari Kelapa
Jenis Produksi Tepung Kelapa dan Produk Olahan Tepung Kelapa
Peluang Pasar Pasar domestik dan internasional (Amerika dan Negara-negara Eropa Barat).
Daya Saing Perkebunan kelapa di Sulut 68,46 % dari total area perkebunan
Produksi 268.528. ton per tahun
Bahan Baku Daging kelapa Produksi kelapa Sulut rata-rata 268.528. ton per tahun
2.   Industri Pengalengan Ikan
Jenis Produk Ikan Kaleng, Ikan Beku
Tipe Investasi Fasilitas pengolahan makanan
Kapal Penangkap Ikan dengan kapasitas lebih dari 30 GT
Peluang Pasar Di Jepang minat konsumsi ikan kaleng terus meningkat dari tahun ke tahun
Tingkat permintaan pasar internasional yang tinggi akan produk-produk olahan ikan
Ekspor Ikan Kaleng senilai 14 juta USD
Daya Saing Dukungan pemerintah local/propinsi serta kabupaten kota karena merupakan sektor andalan di Sulut
Posisi strategis (dikelilingi laut Banda, laut Sulawesi dan Samudra Pasific)
Laut Banda, (Potensi Ikan pelagis 104.000. ton/tahun sementara produksi tangkapan ikan baru 28% atau 29.100. ton/tahun)
Laut Sulawesi, (Potensi Ikan pelagis 175.000. ton/tahun dengan produksi tangkapan ikan hanya 153.000. ton/tahun)
3.   Budidaya Nenas
Jenis Produk Nenas
Peluang Pasar Dalam Negeri Volume : 2.660 ton/hari, Nilai : Rp.2.128.000.000,-
Export Volume : 18.336 matrik ton/hari
Kapasitas Produksi 500.000. kg/ tahun
Lokasi Kabupaten. Bolaang Mongondow, Kabupaten. Sangihe
Kebutuhan Lahan 10 ha
Kebutuhan_Tenaga Kerja 7.012 orang
4.   Industri Listrik
Jenis Produk Energi Listrik
Tipe Investasi Pembangkit Listrik tenaga panas bumi
Peluang Pasar Pertumbukan beban puncak lebih tinggi dari pertumbuhan daya terpasang artinya dimasa akan datang akan terjadi krisis listrik.
Daya Saing Pembangkit listri tanaga panas bumi merupakan sumber energi yang ramah lingkungan
Panas bumi merupakan sumber energi yang tidak akan pernah habis serta tidak dipengaruhi oleh iklim
Lokasi Potensial Lahendong Kabupaten Minahasa.
Bahan Baku Panas Bumi
Skala Bisnis yang Diusulkan Kontak Jangka panjang dengan pertamina. Nilai Investasi Awal 80 juta USD untuk kapasitas 80 mw
5.   Industri Pengolahan Ikan
Jenis Produk Ikan Kayu dan Beraneka ragam ikan kayu olahan (snack ikan, abon, mie, permen, dll.)  
Tipe Investasi Kapal penangkap ikan dengan kapasitas lebih dari 30 GT
Fasilitas pengolahan makanan (mesin pengolahan modern dan fasilitas produksi)
Peluang Pasar Pasar domestik dan internasional (Jepang, Taiwan, Singapura, Filipina, dan sebagainya.
Daya Saing Dukungan pemerintah local/ propinsi serta kabupaten kota karena merupakan sektor andalan di Sulut
Posisi strategis (dikelilingi laut Banda, laut Sulawesi dan Samudra Pasific)
Laut Banda, (Potensi Ikan pelagis 104.000. ton/tahun dengan produksi tangkapan ikan hanya 28 % atau 29.100. ton/tahun)
Laut Sulawesi, (Potensi Ikan pelagis 175.000. ton/tahun dengan produksi tangkapan ikan hanya 153.000 ton/tahun)
6.   Budidaya Kentang
Jenis Produksi Kentang
Peluang Pasar Dalam Negeri Volume : 2..023,2 Ton
Export Volume : 27.161. Ton dengan Nilai transaksi perdagangan USD 1.330.719,-
Kapasitas Produksi Modoinding Kabupaten Minahasa Selatan 169.400. ton
Kabupaten Bolaang Mongondow 402.116 ton
Uraian Teknis/Teknologi Keadaan Iklim. Tropik, 300- 2000 M dpl, Suhu rata-rata 15-200 c, Kelembaban udara 80 % - 90 %
Keadaan tanah. Tanah yang subur dan gembur mengandung bahan organik , (ph) 5,0 - 6,5
Jenis dan varietas kentang budidaya, Kentang Kuning (yellow potatoes), Kentang Putih dan Kentang Merah.
7.    Industri Rumput Laut
Jenis Produk Karaginan, Rumput Laut Kering
Tipe Investasi Fasilitas pengolahan makanan, Budidaya Rumput Laut
Peluang Pasar Permintaan produk-produk rumput laut terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan peningkatan industri makanan dan industri pupuk
Pasar internasional (Amerika, Negara-negara Eropa dan Jepang)
Daya Saing Rumput laut di Sulut belum terkontaminasi dengan limbah rumah tangga maupun limbah pabrik
Sulawesi Utara terletak di laut terbuka yang sangat baik untuk pertumbuhan rumput laut secara alamiah
Bahan Baku Rumput Laut Merah. Gracilaria untuk produksi rumput laut kering dan Euchema unruk memproduksi karaginan
8.    Industri Minyak Kelapa Murni
Jenis Produk Minyak Kelapa Murni
Lokasi Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten. Minahasa Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow  

Program Pembangunan

Program Pembangunan Sulawesi Utara

Perdagangan dan Industri

Perdagangan dan Industri Sulawesi Utara

Indikator Ekonomi

  Indikator Satuan September 2012 Oktober 2012 November 2012
1 Simpanan Rp. Juta 15,732,261 15,788,774 15,945,295
  - Giro Rp. Juta 2,555,941 2,625,439 2,733,867
  - Tabungan Rp. Juta 7,540,426 7,630,225 7,704,747
  - Simpanan Berjangka Rp. Juta 5,635,894 5,533,110 5,506,681
2 Pinjaman yang diberikan Rp. Juta 21,855,611 22,549,239 23,384,941
  - Modal Kerja Rp. Juta 7,628,651 7,673,431 8,194,319
  - Investasi Rp. Juta 2,959,589 2,944,362 2,936,877
  - Konsumsi Rp. Juta 11,267,371 11,931,446 12,253,745
3 Kredit UMKM Rp. Juta 5,751,402 5,781,054 5,834,512
  - Mikro Rp. Juta 993,793 999,379 1,012,890
  - Kecil Rp. Juta 2,264,346 2,217,792 2,215,120
  - Menengah Rp. Juta 2,493,263 2,563,883 2,606,502
4 Ekspor Non Migas        
  - Nilai USD ribu 69,519,906 76,190,301* 56,608,498**
  - Volume ton 94,914,056 68,868,180* 50,532,103**
5 Impor Non Migas        
  - Nilai USD ribu 3,711,695 6,782,294* 6,546,487**
  - Volume ton 11,499,965 1,712,410* 10,234,827**
6 Harga-harga Kota Manado        
  - IHK      
  - Inflasi (mtm) %    
Keterangan :
  • Sumber Data : Bank Indonesia (data Simpanan dan Pinjaman), Badan Pusat Statistik (IHK dan PDRB), Ditjen Bea dan Cukai (Ekspor      dan Impor Nonmigas)
  • * Angka sementara
  • ** Angka sangat sementara

APBD dan PDRB

PDRB Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha
2003-2007
Sulawesi Utara

(Jutaan Rupiah)

Lapangan Usaha 2003  2004  2005 2006 2007
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perkebunan  2.744.233,95  3.018.915,69  3.615.567,97  4.168.564,99  4.855.024,64
Pertambangan & Penggalian  823.583,73  813.843,18  846.566,61  967.317,56  1.077.649,53
Industri Pengolahan 1.325.427,06   1.466.542,92  1.582.761,16  1.901.008,35  1.885.007,16
Listrik, Gas dan Air Bersih  110.916,84  115.287,40  181.907,81  194.927,29  198.856,83
Bangunan  2.211.189,45  2.370.900,41  2.873.963,46  3.204.935,56  4.026.172,15
Perdagangan, Hotel dan Restoran  1.985.931,59  2.332.091,16  2.877.211,55  3.288.370,51  3.593.773,76
Pengangkutan dan Komunikasi  1.781.464,09  1.979.958,48  2.689.130,83  2.883.293,84  2.521.093,94
Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan  892.278,35  966.992,73  1.056.729,89  1.280.750,61  1.295.519,39
Jasa-jasa  2.286.854,27  2.663.217,00  3.039.639,82  3.614.528,39  3.996.345,75
Produk Domestik Regional Bruto  14.161.879,33  15.727.748,98  18.763.479,10  21.503.697,10  23.449.443,15
Penduduk Pertengahan Tahun  2.135.520   2.158.597  2.128.780  2.160.641  2.186.810
PDRB Perkapita  6.631.584  7.286.098  8.814.194  9.952.462  10.723.128

sumber : www.sulut..bps.go.id

 

Gorontalo

Peta Provinsi Gorontalo

Sejak gerakan reformasi merebak, isu demokratisasi dan desentralisasi menjadi bagian dari kehidupan di masyarakat terutama dibidang politik. Melihat peluang tersebut masyarakat Gorontalo baik yang berada di daerah maupun yang berada di perantauan, berjuang untuk memekarkan wilayahnya segera membentuk daerah otonom sebuah Provinsi.

Perjuangan pembentukan Provinsi dimotori oleh berbagai komponen yang tergabung dalam Pesidium Nasional (Presnas) dan Komite Perjuangan Pembentukan Provinsi Gorontalo (KP3G). Serta didasari semangat patriotik 23 Januari, akhirnya pada moment peringatan Hari Patriotik 23 Januari 2000, ribuan massa dari berbagai elemen mendeklarasikan perjuangan pembentukan Provinsi Gorontalo. Dan hal ini menambah deretan beberapa daerah lain di Indonesia berjuang untuk memekarkan wilayahnya. Dan atas dasar Undang-undang Nomor.38 Tahun 2000 Provinsi Gorontalo resmi ditetapkan sebagai provinsi yang ke-32 di Indonesia.

Provinsi Gorontalo ketika itu baru terdiri dari 3 Kabupaten Kota Yakni Kab Boalemo dengan Ibukota Tilamuta, Kab Gorontalo dengan Ibukota Limboto dan Kota Gorontalo, dan berkembang terus dalam perjuangan pemekaran. Hingga kini telah menjadi 6 Daerah dengan tambahan 3 Kabupaten baru yakni Kab Pohuwato dengan Ibukota Marisa, Kab Bone Bolango (2002) dengan Ibukota Suwawa dan terakhir Kab Gorontalo Utara (2007) dengan Ibukota Kwandang.

Provinsi Gorontalo berada pada posisi diantara 0,19-1,15 LU dan 121,23-123,43 BT. terletak bagian utara pulau Sulawesi. Dimana sebelah Timur berbatasan dengan provinsi Sulawesi Utara , Sebelah barat dengan provinsi Sulawesi Tengah sedangkan sebelah utaranya berhadapan langsung dengan laut Sulawesi dan sebelah selatan dengan teluk Tomini

Produk Unggulan

Potensi Pertanian

Tanaman padi dan palawija yang dibudidayakan di Provinsi Gorontalo meliputi padi sawah, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang kedelai, kacang hijau, dan kacang tanah. Luas panen padi sawah tahun 2010 adalah 45.370 hektar dengan luas panen terbesar berada di Kabupaten Gorontalo seluas 20.105 hektar. Luas panen jagung di Provinsi Gorontalo adalah seluas 143.833 hektar. Untuk luas panen jagung terbesar berada di Kabupaten Pohuwato dengan 47,20 persen dari total luas panen jagung provinsi.

Pada tahun 2006 produksi jagung sebesar 416.222, dan tahun 2010 angka produksi jagung telah mencapai 679.186 ton dengan luas tanam 164.999 ha dan luas panen 143.833 ha dengan produktivitas rata-rata jagung 4.72 ton per hektar. Produksi pertanian khususnya jagung akan tetap dijaga peningkatannya sehingga diharapkan akan sustainable pada tingkat produksi 750 ribu hingga 1 juta ton di tahun 2012 sesuai target dalam RPJMD 2007-2012.

Potensi Perikanan

Potensi perikanan dan kelautan yang ada menjadi modal dasar pembangunan Provinsi Gorontalo. Luas perairan mencapai 50.500 km2 yang terdiri dari luas wilayah laut Teluk Tomini 7.400 km2, laut Sulawesi 3.100 km2 dan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) laut Sulawesi 40.000 km2 serta panjang garis pantai 655,8 Km yang meliputi wilayah pantai utara (laut Sulawesi) 217,7 Km dan wilayah pantai selatan (Teluk Tomini) 438,1 Km. Potensi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengembangan usaha perikanan tangkap, budidaya maupun pengolahan.

Untuk sektor perikanan, melalui program utamanya Pengembangan Sumberdaya Perikanan Tangkap, Budidaya, Pengolahan Hasil Perikanan, Pengawasan SDKP serta Pengembangan Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil diharapkan akan memenuhi target RPJMD 2007-2012 sebesar 70.000-100.000 ton untuk perikanan tangkap dan untuk perikanan budidaya sebesar 50.000-70.000 ton. Hal ini juga dibarengi dengan perbaikan kinerja sektor perikanan dimana pada tahun 2010 produksi perikanan tangkap mencapai 72.325 ton atau naik sebesar 46,81 persen jika dibandingkan produksi tahun 2006 yang hanya mencapai 49.263 ton. Demikian halnya dengan produksi perikanan budidaya pada tahun 2010 mencapai 93.659 ton atau naik 41,24 persen jika dibandingkan tahun 2006 yang hanya sekitar 66.311 ton. Peningkatan produksi perikanan ini turut serta memperbaiki pendapatan nelayan dari Rp.897.942 ditahun 2006 menjadi Rp.1.759.596 di tahun 2010 atau meningkat 95,96 persen.

Potensi ini seharusnya dapat dimaksimalkan jika saja aktivitas illegal fishing yang terjadi baik di sekitar Teluk Tomini maupun di pantai utara provinsi ini bisa diberantas. Potensi perikanan budidaya mencakup budidaya laut, air payau dan air tawar. Produksi budidaya laut sebesar 275.280 ton per tahun dengan luas area 25.050 dan tingkat pemanfaatan baru mencapai 4.738, produksi budidaya air payau produksi 59.770 ton dengan luas area 10.900 dan tingkat pemanfaatan mencapai 3.136 dan produksi budidaya air tawar sebesar 4.218 ton per tahun dengan luas area 1.000 Ha dan tingkat pemanfaatan mencapai 460 Ha.

Jumlah rumah tangga perikanan di Provinsi Gorontalo tahun 2010 adalah sebanyak 8.316 rumah tangga, atau meningkat 0,43 persen dibandingkan tahun 2009 yang berjumlah 8.280 rumah tangga.menurut jenisnya, perikanan dibedakan menjadi perikanan laut dan perikanan darat. Sebagian besar produksi perikanan dihasilkan oleh perikanan darat dengan cara budidaya. Produksi budidaya perikanan sebesar 93.658,52 ton atau sebesar 60,16 persen dari keseluruhan produksi ikan di tahun 2010 yaitu sebesar 155.700 ton.

Potensi Industri dan Energi

Perindustrian

Jumlah Perusahaan Industri di Provinsi Gorontalo pada tahun 2010 tercatat sebanyak 30 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 9.093 orang. Total nilai output mencapai 405,268 milyar Rupiah, sedangkan biaya input 93,065 milyar Rupiah. Sehingga nilai tambah yang diperoleh dari industri adalah 312,203 milyar Rupiah.

Energi

Kebutuhan listrik di Provinsi Gorontalo dipenuhi oleh PT. Perusahaan Listrik Negara (Perse ro), Wilayah VII Cabang Gorontalo. Pada tahun 2010, total daya yang tersambung sebesar 106.192.570 VA dengan produksi listrik terjual sebesar 205.447.592 KWh. Pelanggan listrik yang tercatat di Provinsi Gorontalo pada  tahun 2010 sebanyak 113.649 pelanggan.

Kehutanan

Provinsi Gorontalo memiliki potensi seluas ± 824.668 Ha yang terdiri dari hutan lindung 204.608 Ha atau 24,81 persen, hutan produksi (terbatas, tetap dan konversi) + 423.407 Ha atau 51,34 persen dari luas kawasan hutan dan selebihnya adalah hutan konservasi. Kawasan suaka alam di Provinsi Gorontalo terdiri atas : Cagar Alam Popaya Mas Raja Kab. Gorontalo Utara (159,4 Ha), Cagar Alam Panua Kab. Pohuwato (36.767 Ha), Cagar Alam Tangela Kab. Gorontalo (112,5 Ha), Cagar Alam Tanjung Panjang Kab. Pohuwato (3.000 Ha), Suaka Margasatwa Nantu Kab. Gorontalo dan Boalemo (51.709,1 Ha). Sedangkan Kawasan Pelestarian Alam adalah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Kab. Bone Bolango seluas 104.905 Ha.

Investasi di bidang kehutanan yang prospektif adalah pengembangan hutan tanaman industri pada areal tertentu terutama untuk pengembangan kayu jati. Potensi lainnya adalah pengembangan industri hasil hutan seperti industri meubel berbahan kayu, rotan, industri damar, serta budidaya lebah madu dan lain-lain. Dalam rangka pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan, kelestarian dan ekologi hutan tetap harus menjadi prioritas. Pengembangan hutan produksi harus diikuti dengan penanaman kembali agar tidak terjadi degradasi hutan sehingga kelangsungan produksi tetap terjaga dan tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan. Hal lain yang patut mendapatkan perhatian adalah aktifitas illegal logging yang dapat terjadi akibat fungsi-fungsi unit manajemen tidak optimal.

Selain kayu, produk jasa dan non kayu di kawasan hutan Provinsi Gorontalo sangat potensial untuk dimanfaatkan antara lain ecotourism dengan keindahan dan kenyamanan alam (wisata hutan) serta kekayaan flora yang memiliki keunikan dan sumber daya air yang melimpah.

Pada sektor kehutanan pola pemberdayaan masyarakat diwujudkan dengan pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM) yang dikenal dengan nama social forestry. Pengembangan social forestry dengan metode PRA (participatory Rural Appraisal) dilaksanakan dengan kerangka pengelolaan hutan lestari melalui strategi pokok : kelola kawasan, kelola kelembagaan dan kelola usaha.

Pertambangan

Di bidang pertambangan dan energi, potensi yang ada mencakup sejumlah bahan tambang dan mineral yang mempunyai nilai ekonomi tinggi seperti emas, perak, tembaga, batu gamping (lime stone), toseki, batu granit, sirtu, zeolit, kaolin, pasir kuarsa, feldspar dan lempung (clay). Potensi ini mempunyai nilai ekonomis penting dalam peningkatan kemakmuran masyarakat Gorontalo. Secara geologis, potensi bahan tambang Provinsi Gorontalo tersebar di Kabupaten Gorontalo dan Boalemo.

Potensi Perkebunan

Di Provinsi Gorontalo, berdasarkan data yang ada, hasil tanaman perkebunan yang paling dominan adalah tanaman kelapa dengan produksi sebesar 58.804 ton, diikuti oleh kakao, dan kopi yang masing masing berproduksi 3.669 ton dan 929 ton.

Potensi Peternakan

Populasi ternak di Provinsi Gorontalo terdiri dari sapi potong, sapi perah, kambing, babi, dan kuda. Pada tahun 2010, populasi terbanyak adalah sapi potong sebanyak 252.747 ekor, dengan jumlah total produksi ternak mencapai 380.313 kg. Sedangkan populasi unggas terdiri dari ayam kampung, ayam ras petelur, ayam ras pedaging, dan itik. Populasi unggas terbesar adalah ayam ras pedaging sejumlah 1.316.000 ekor.

Potensi Pariwisata

Wisatawan mancanegara yang berkunjung di Provinsi Gorontalo pada tahun 2010 sebanyak 455 orang. Sedangkan wisatawan domestik mencapai 149.993 orang. Sarana dan prasarana yang tersedia bagi wisatawan meliputi hotel sebanyak 76, kamar hotel sebanyak 1.191, tempat tidur hotel sebanyak 1.749, restoran sebanyak 40, rumah makan sebanyak 1.022, dan kafe sebanyak 18.

Diolah dari Gorontalo Dalam Angka 2011

Peluang Investasi

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo dari tahun ke tahun terus menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Pada triwulan III 2006, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 6,06% (y.o.y). Dari sisi penawaran, sektor pertanian, sektor keuangan, persewaan dan jasa keuangan serta sektor pengangkutan dan komunikasi merupakan sektor-sektor dominan dalam PDRB Gorontalo. Khusus di sektor pertanian, beberapa program unggulan yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo diantaranya adalah :

  1. Menjadikan Gorontalo sebagai Provinsi Agropolitan yakni Provinsi yang memiliki kompetisi di bidang pertanian
  2. Pengembangan ekonomi kelautan dengan sasaran dengan sasaran peningkatan kinerja sektor perikanan dan pengembangan wilayah pesisir.

Sebagai sebuah daerah agraris, Gorontalo merupakan penghasil beberapa tanaman pangan terutama Jagung yang dijadikan komoditi unggulan beberapa tahun terakhir, selanjutnya padi, kelapa, cengkeh, kemiri dan pala yang tersebar di seluruh kabupaten se-Gorontalo. Disamping itu, dengan kondisi daerah yang relatif subur dan berbukit Gorontalo juga merupakan penghasil komoditi sayur-sayuran yang belum dikembangkan secara optimal. Jenis sayur-sayuran yang dihasilkan dan dapat dikembangkan lebih lanjut antara lain cabe, tomat dan bawang. Di bidang peternakan, kondisi daerah yang memiliki areal lahan kering dan padang rumput yang luas sangat cocok untuk pengembangan peternakan antara lain sapi, kambing dan kerbau. Di bidang perikanan dan kelautan, Gorontalo memiliki potensi yang sangat besar mulai dari budidaya air tawar, budi daya tambak, budi daya laut dan perikanan tangkap (marine fishery). Komoditi yang menjadi unggulan daerah ini dan masih perlu dikembangkan karena potensinya yang baik adalah rumput laut dan perikanan laut.

Peluang Investasi di Gorontalo diantaranya adalah :

1. Industri Pembekuan dan Pengalengan Ikan
Realisasi total produksi perikanan pada tahun 2003 sebesar 2.640 ton. Komoditi perikanan merupakan komoditi yang memerlukan penanganan khusus, karena sifatnya yang mudah sekali rusak. Disisi lain permintaan akan produk ini semakin tinggi. Oleh sebab itu industri pembekuan dan pengalengan ikan memiliki prospek yang cukup baik di tahun-tahun mendatang.Tercatat potensi tangkapan hingga saat ini baru termanfaatkan sekitar 10,18 %. Produksi perikanan Kota Gorontalo saat ini sebagian besar untuk memenuhi permintaan Luar Negeri  terutama dari Jepang dan Hongkong disamping untuk konsumsi lokal, regional maupun nasional.

2. Industri Pengawetan Rotan
Tingkat Produksi Industri pengawetan rotan untuk setiap unit usaha rata-rata mencapai ± 1800  ton per tahun. Industri pengawetan rotan di daerah ini memiliki daya saing yang kuat  dalam memasuki pasar global. Faktor yang menjadi kekuatan adalah ketersediaan bahan baku serta tenaga kerja yang relatif murah.

3. Industri Perabot (Meubel Rotan)
Industri meubel rotan di Kota Gorontalo dewasa ini telah mengalami kemajuan yang cukup berarti. Jumlah unit usaha yang ada saat ini sebanyak 285 unit.

Program Pembangunan

4 (empat) Agenda Pokok Pembangunan

  • INOVASI KEPEMERINTAHAN WIRAUSAHA YANG DITITIK BERATKAN PADA PENCAPAIAN PRESTASI AKSI DAN PRESTASI HASIL YANG MAMPU MENUMBUHKAN KEPERCAYAAN RAKYAT, yang diwujudkan ke dalam kemampuan penyediaan Public Goods dan Public Services yang mencukupi, berkualitas, ekonomi, efesien dan efektif/relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan masalah yang dihadapi rakyat.
  • INOVASI PENGEMBANGAN SDM YANG BERORIENTASI WIRAUSAHA, MANDIRI DAN RELIGIUS melalui pembangunan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan kemandirian individu dan penanaman semangat kerjasama kelompok; pencerahan keagamaan dan budaya yang membangkitkan etos kerja wirausaha, semangat kerjasma, dan toleransi; pembangunan kesehatan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
  • INOVASI DALAM MENUMBUH-KEMBANGKAN EKONOMI RAKYAT BERBASIS DESA yang diarahkan untuk meningkatkan kinerja sektor unggulan daerah dalam menunjang produktivitas daerah yang bertumpu pada ekonomi desa.
  • INOVASI TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT yang diarahkan untuk meningkatkan akses, penguasaan, dan pemanfaatan teknologi tepat guna dalam menunjang aktivitas ekonomi masyarakat.

Perdagangan dan Industri

Perdagangan dan Industri

Indikator Ekonomi

Indikator Ekonomi Gorontalo

  Indikator Satuan September 2012 Oktober 2012 November 2012
1 Simpanan Rp. Juta 2,833,609 2,806,115 2,808,449
  - Giro Rp. Juta 447,428 387,371 389,478
  - Tabungan Rp. Juta 1,589,752 1,622,661 1,654,858
  - Simpanan Berjangka Rp. Juta 796,429 796,083 764,113
2 Pinjaman yang diberikan Rp. Juta 6,102,007 6,203,708 6,274,690
  - Modal Kerja Rp. Juta 1,661,800 1,659,909 1,662,604
  - Investasi Rp. Juta 804,317 782,784 771,458
  - Konsumsi Rp. Juta 3,635,890 3,761,015 3,840,628
3 Kredit UMKM Rp. Juta 1,803,107 1,785,386 1,811,630
  - Mikro Rp. Juta 391,027 408,521 403,926
  - Kecil Rp. Juta 791,301 762,141 766,757
  - Menengah Rp. Juta 620,779 614,724 640,947
4 Ekspor Non Migas        
  - Nilai USD ribu 217,030 674,984* 1,391,291**
  - Volume ton 1,627,095 2,201,008* 10,033,175**
5 Impor Non Migas        
  - Nilai USD ribu   *  
  - Volume ton   *  
6 Harga-harga Kota Gorontalo        
  - IHK      
  - Inflasi (mtm) %    
Keterangan :
  • Sumber Data : Bank Indonesia (data Simpanan dan Pinjaman), Badan Pusat Statistik (IHK dan PDRB), Ditjen Bea dan Cukai (Ekspor      dan Impor Nonmigas)
  • * Angka sementara
  • ** Angka sangat sementara

APBD dan PDRB

APBD dan PDRB Gorontalo

Sulawesi Tengah

Peta Sulawesi TengahWilayah provinsi Sulawesi Tengah, sebelum jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda, merupakan sebuah Pemerintahan Kerajaan yang terdiri atas 15 kerajaan di bawah kepemimpinan para raja yang selanjutnya dalam sejarah Sulawesi Tengah dikenal dengan julukan Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat.

Tahun 1964 dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 1964 terbentuklah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang meliputi empat kabupaten yaitu Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Selanjutnya Pemerintah Pusat menetapkan Propinsi Sulawesi Tengah sebagai Provinsi yang otonom berdiri sendiri yang ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Pembentukan Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan selanjutnya tanggal pembentukan tersebut diperingati sebagai Hari Lahirnya Provinsi Sulawesi Tengah.

Dengan perkembangan Sistem Pemerintahan dan tutunan Masyarakat dalam era Reformasi yang menginginkan adanya pemekaran Wilayah menjadi Kabupaten, maka Pemerintah Pusat mengeluarkan kebijakan melalui Undang-undang Nomor 11 tahun 2000 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 51 Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Buol, Morowali dan Banggai Kepulauan. Kemudian melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2002 oleh Pemerintah Pusat terbentuk lagi 2 Kabupaten baru di Provinsi Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Tojo Una-Una. Kini berdasarkan pemekaran wilayah kabupaten, provinsi ini terbagi menjadi 10 daerah, yaitu 9 kabupaten dan 1 kota.

Sulawesi Tengah juga memiliki beberapa sungai, diantaranya sungai Lariang yang terkenal sebagai arena arung jeram, sungai Gumbasa dan sungai Palu. Juga terdapat danau yang menjadi obyek wisata terkenal yakni Danau Poso dan Danau Lindu.

Sulawesi Tengah memiliki beberapa kawasan konservasi seperti suaka alam, suaka margasatwa dan hutan lindung yang memiliki keunikan flora dan fauna yang sekaligus menjadi obyek penelitian bagi para ilmuwan dan naturalis.

Ibukota Sulawesi Tengah adalah Palu. Kota ini terletak di Teluk Palu dan terbagi dua oleh Sungai Palu yang membujur dari Lembah Palu dan bermuara di laut

Produk Unggulan

Sektor Pertanian dan Perkebunan

Perkembangan Sektor Pertanian sangat dominan, sehingga dalam mengatasi dampak krisis ekonomi dibutuhkan peningkatan nilai produksi dari sektor pertanian unggulan yang dimiliki Propinsi Sulawesi Tengah. Sesuai sistem pengairan lahan persawahan dapat dibedakan antara lain lahan sawah irigasi teknis seluas 54.314 ha, irigasi setengah teknis seluas 36.241 ha, irigasi sederhana seluas 13.410 ha, irigasi desa / Non PU seluas 22.929 ha dan lahan sawah non irigasi teknis seluas 23.518 ha. Dari luas lahan tersebut jumlah produksi padi sawah yang dihasilkan setiap tahunnya dihasilkan setiap tahunnya mencapai 726.714 ton/ha. Luas lahan palawijaya, holtikultura dan sayur mayor 57.320 ha, luas buah-buahan 14.029,92 ha dan luas lahan tanaman obat 667.272 ha.

Bidang sektor pertanian merupakan yang terpenting dalam perekonomian karena merupakan penyumbang terbesar yaitu sekitar 48,79% bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sementara tanaman bahan kedua (14,74% dari PDRB) setelah perkebunan (24,09%). Secara umum pertumbuhan produksi berasal dari dua sumber yaitu peningkatan luas panen dan peningkatan hasil per hektar yang ditunjang dengan perbaikan saluran irigasi, penggunaan pupuk yang berimbang serta benih unggul bermutu.

Pencapaian produksi tanaman pangan bagi penduduk Sulawesi Tengah utamanya beras, jagung, kacang tanah, kacang hijau dan ubi jalar dipenuhi dari produksi sendiri, dan hanya beberapa komoditi dari daerah lain sebagai tambahan. Dari potensi unggulan perkebunan yang menjadi unggulan, antara lain:

  • BIJI KAKAO

Potensi unggulan biji kakao yang menjadi potensi unggulan Propinsi Sulawesi Tengah diperdagangkan dalam bentuk bahan mentah (raw material export) dan untuk mendapatkan hasil yang berwujud barang setengah jadi atau barang jadi perlu diolah melalui sentuhan teknologi maju sehingga mempunyai nilai kompetitif yang sangat tinggi. Produksi kakao tahun 2004 sebesar 129.372,40 ton dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 179.683,00 ton.

Potensi Kakao tersebar diseluruh kabupaten yang ada di Propinsi Sulawesi Tengah yaitu di kabupaten Parigi Moutong dengan luas area kakao sebesar 62.543,00 ha dan hasil produksi 66.746,00 ton, di kabupaten Donggala degnan luas 37.817,00 ha dengan hasil produksi 36.631,00 ton, di kabupaten Poso dengan luas 31.473,00 ha dengan hasil produksi 29.188,00 ton, kabupaten Morowali luas 18.724,00 ha dengan hasil produksi 9.747,00, di kabupaten Buol

13.536,00 ha dengan hasil produksi 11.605,00 ton, di kabupaten Banggai 12.206,00 ha dengan hasil produksi 7.361,00 ton, di kabupaten Toli-toli dengan besar area 12.518,00 ha dengan hasil produksi 9.515,00 ton, di kabupaten Banggai Kepulauan dengan luas area 7.007 ha dengan hasil produksi 2.982,00 ton, di kabupaten Tojo Una-una 10.460,00 ha dengan hasil produksi 5.861,,00 ton, dan di kota Palu dengan luas area sebesar 97,00 ha dengan hasil produksi 47,00 ton.

  • KELAPA SAWIT

Salah satu potensi yang diunggulkan dari sektor perkebunan di Propinsi Sulawesi Tengah yaitu Kelapa Sawit dengan luas areal tanam sebesar 66.595,00 ha dan hasil produksi mencapai 6623.293,00 ton.

  •  KARET

Untuk potensi unggulan karet di Sulawesi Tengah dengan luas areal tanam 6.520,00 ha dan yang dapat menghasilkan 7.216,00 ton per tahunnya.

 Tabel Sektor Perkebunan

Komoditas Unggulan Sektor Perkebunan Komoditi Kakao

No. Kabupaten/ Kota Luas Lahan (Ha) Produksi (Ton)
1. Kab.Parigi Moutong 61.743 24.910
2. Kab.Donggala 34.071 37.970
3. Kab.Poso 25.024 25.024
4. Kab.Morowali 17.718 1.160
5. Kab.Buol 6.189 9.200
6. Kab.Banggai 16.198 5.616
7. Kab.Toli-Toli 10.089 8.527
8. Kab.Banggai Kepulauan 6.615 3.701
9. Kab.Tojouna-una 9.023 4.013
Provinsi 186.670 103.756

Sektor Kelautan dan Perikanan

Di sektor perikanan dan kelautan mempunyai potensi yang sangat besar karena luas perairan lautnya yang cukup besar dan diharapkan pengelolaan potensi tersebut dapat menciptakan industri berbasis perikanan yang terus tumbuh dan berakibat pada peningkatan nilai pendapatan daerah.

Potensi unggulan yang dapat dikembangkan dari sektor perikanan dan kelautan ini antara lain : udang, tuna, cakalang, kerapu, teripang, lajang dan rumput laut. Wilayah pengembangan potensi udang terdapat di 6 (enam) kabupaten yang dikelompokkan menjadi 2 (dua) cluster yaitu Parigi Moutong dan Banggai. Rasio sangatlah besar, sehingga lingkungan relatif lebih baik. Adapun sasaran areal pada tahun 2009 sebesar 6.150,00 ha dengan hasil produksi kisaran 14.000 ton.

Sedangkan pengembangan potensi tuna terdapat di 6 (enam) kabupaten di Propinsi Sulawesi Tengah yang difokuskan pada 3 (tiga) cluster yaitu Donggala, Banggai dan Parigi Moutong dengan sasaran armada pada tahun 2009 sebesar 150 unit dengan hasil produksi sebesar 7.500 ton

Untuk potensi unggulan rumput laut sendiri dikembangkan di 10 (sepuluh) kabupaten / kota yang terfokus pada 3 (tiga) cluster yaitu Parigi Moutong, Toli-toli dan Banggai Kepulauan. Sedangkan mutu yang terbaik sementara ini yaitu Gell Straight dan Yield. Peningkatan sasaran areal dinilai cukup baik karena tahun 2008 sasaran areal hanya berkisar 7.851 ha dengan hasil produksi 84.119 ton yang terus mengalami peningkatan di tahun 2009 menjadi 11.777 ha dengan hasil produksi 126.179.

Tabel Sektor Perikanan

Komoditas Unggulan Sektor Perikanan 

No. Penjelasan Potensi
A. Perikanan Tangkap
1. a.Perairan laut 120.986 km2
  b. Potensi Sumberdaya Ikan 428.000 Ton/ Tahun
2. Potensi Pengelolaan lestari 214.000 Ton/Tahun
  a. Selat Makassar dan Laut Sulawesi  67.066 Ton/Tahun
  b. Teluk Tomini 77.650 Ton/ Tahun
  c. Teluk Tolo 68.656 Ton/ Tahun
  Pemanfaatan (43,13 %) 92.298,20 Ton/Tahun
3. Jenis : Pelagis Besar, Kecil dan Demersal

 

No.

Penjelasan

Potensi

B. Perikanan Budidaya

1. Tambak Udang dan Bandeng 42.095,20
2. Kolam (Air Tawar) 11.740,00
3. Perairan Umum 40.426,00
4. Budidaya Laut 48.384,00

Sektor Peternakan

Untuk seketor peternakan daerah Propinsi Sulawesi Tengah memiliki areal padang rumput dan semak belukar yang sangat cocok sebagai areal peternakan. Potensi unggulan yang dapat dikembangkan dari sektor peternakan ini adalah sapi. Namun sampai dengan saat ini sendiri masih dikelola oleh masyarakat secara tradisional. Untuk itu, program kedepan yang dicanangkan oleh pemerintah yaitu pengembangan potensi unggulan di sektor peternakan ini berupa menyiapkan bibit unggul sapi, dan melakukan pelatihan petugas dan petani ternak melalui :

- Teknologi penggemukan sapi

- Penyediaan obat-obatan

- Pengembangan Sumber Daya Manusia

- Pengembangan Infrastruktur

- Penyediaan sarana pengangkutan ternak untuk antar pulau

Sampai dengan saat ini potensi ternak di Propinsi Sulawesi Tengah masih di dominasi oleh Sapi sebanyak 189.145 ekor yang dapat memproduksi daging sebanyak 2.988,17 ton.

Tabel Sektor Peternakan

Komoditas Unggulan Sektor Peternakan

No. Kabupaten/ Kota Jumlah Ternak
1. Kab.Toli-Toli 1.847
2. Kab.Parigi Moutong 1.764
3. Kota Palu 5.591
4. Kab.Donggala 47.825
5. Kab.Poso 8.607
6. Kab.Buol 9.895
7. Kab.Tojo Una-Una 22.391
8. Kab.Banggai 23.356
9. Kab.Banggai Kepulauan 11.112
10. Kab.Morowali 7.024

Sektor Pertambangan dan Energi

Propinsi Sulawesi Tengah memiliki sumber daya bahan galian dan mineral, antara lain mineral logam industri dan bahan bangunan serta bahan bakar fosil yaitu batu bara dan minyak. Bahan galian golongan A (strategis) antara lain minyak Dan gas bumi, batu bara dan nikel. Bahan galian golongan B (vital) antara lain emas, molibdenum, chronit, tembaga dan belerang. Bahan galian golongan C (bukan strategis dan vital) meliputi sirtukil, granit, marmer, pasir kuarsa, pasir besi, lempung dan sebagainya.

Galian A (Strategis) Potensi pertambangan bahan galian golongan A berupa minyak dan gas bumi terletak di kabupaten Banggai dan Morowali, gas alam beralokasi di kabupaten Banggai yang pada saat ini sedang dalam tahap eksplorasi. Untuk batubara yang berlokasi di kabupaten Morowali dan Banggai Kepulauan saat ini dalam tahap eksploitasi, sedangkan potensi nikel berlokasi di Morowali, Banggai dan kabupaten Tojo Una-una masih pada tahap eksplorasi. Namun ada pula potensi yang masih bersifat indikasi yaitu Galena (Timah hitam) yang terdapat di kabupaten Donggala, Toli-toli dan kabupaten Poso dan sedang dalam tahap eksplorasi yang berlokasi di Minahaki, Serono I Matindak oleh PT. Union Texas, Serono II oleh PT. Expan dan Pertamina, Sinorang I dan Dongin oleh Pertamina. Di lapangan Tiaka juga terdapat cadangan minyak bumi sebesar 110 juta barrel, sedangkan di Sinorang kecamatan Batui terdapat cadangan gas sebanyak 4 trilyun kubik (TFC) yang dapat dimanfaatkan untuk industri petro kimia, elpiji, bahan bakar pabrik dan pembangkit listrik serta gas.

1. Nikel

Arel tambang nikel yang terdapat dikabupaten Morowali sebesar 149.700 ha dengan cadangan terduga terbesar 8.000.000 WMT. Blok Tompira sendiri memiliki cadangan infered Linonit sejumlah 6 juta ton kadar Ni 1,40% , saprolit 0.3 juta ton kadar Ni 2,4 %. Diblok Ungkaya potensi infered Limonit sebanyak 3,1 juta ton kadar Ni 1.37%, Saprolit 0,2 juta ton kadar Ni 2,63%. Blok Taloa infered Limonit 1 juta ton kadar Ni 1,36 %. Dikabupaten Banggai Nikel yang terkandung pada Blok Siuna dengan luas arel tambang 45.000 ha kadar Nikel (niko) 1,23-2,93% cadangan infered 14.048 juta ton nico. Pada blok pagimana-Bunta luas areal tambang nikel 50.000 ha dengan mmkadar nico 1,45% cadangan infered 3.6 juta ton. Untuk balinggara luas aeral tambang 15.000 ha sebaran Ni Laterit 250 ha dan Blok Toli dengan luas areal tambang 62.500 ha dengan kadar Ni 1,15%. Untuk kabupaten Tojo una-una pada blok Ulubongka dan blok Balingara di kecamatan ampanatete dimana cadangan dan kadar belum diketahui atau masih dalam pendataan.

2. Migas

Potensi minyak bumi yang dijadikan unggulan dari propinsi Sulawesi Tengah teradapat di kabupaten Monowali kecamatan Bungku Utara termasuk blok Tomori sulawesi lapangan tiaka telah berhasil satu sumur di eksploitasi oleh Medco Energi JOB pertamina E&P yang menghasilkan 6000 barrel / hari.

Kabupaten Donggala juta memiliki potensi minyak bumi di blok surumana yang berbatasan dengan sulawesi barat, yang saat ini telah dimenangkan oleh Exxon Mobile dan pada blok Balaesang serta blok Dampelas belum ada yang di lelang. Potensi gas bumi terdapat di kabupaten Banggai kecamatan Toili dan batui dengan cadangan 1,6 triliun kaki kubik dan luas 475 km2.

3. Batubara

Untuk batubara yang ada di kabupaten Morowali, kecamatan Mori atas dengan tebal lapisan 0,3-1,0 m jenis gambut (peat), lignit dan brow coal pada kabupaten Donggala di kecamatan Sirenja dengan penyebaran 15 ha dan ketebalan 0,35 m. hasil analisa grap sampling menujukkan kadar air 20,79 %, abu 9,68% fx carbon 29,55 %, belerang 1,26 % dengan nilai kalori seluruhnya 4.130 kkal. Untuk kabupaten Banngai kepulauan teradapat di kecamatan Bulage (tatarandang) dengan tebal lapisan 1,5 m dan kalori 5.600 kkal. Didaerah paisabatu dan lelengan di kecamatan Buko nerlapis 20 cm – 2 m, dengan kalori 5.700 kkal dimana cadangan potensinya belum diketahui.

4. Galena

Di kabupaten Donggala kecamatan Marawola potensi Galena belum diketahui cadangan dan kadarnya. Sedangkan di kabupaten Toli-toi kecamatan Dondo penyebaran Galena (Pb) bersama-sama dengan seng (Zn) dan Molibdenum (MoS2) pada koordinat 120 33 40 BT dan 00 40 24 LS. Sumber daya tereka 100.000.000 ton (Bambang Pardianto/Hartono Lahar-Dit.SDM Bandung, 1999)

5. Biji Besi

Potensi biji besi terdapat di kabupaten Tojo Una-una di kecamatan Ulubongka, dan Blok Balingara kecamatan Ampana Tete dengan kadar Fe203 53%. Di kabupaten Banggai terdapat di Blok Siuna dengan luas 45.000 ha, cadangan infered 14.048 juta ton. Blok Pagimana-Bunta dengan luas areal tambang 50.000 ha dan kadar Fe203 42,46% cadangan infered 3.6juta ton dan pada blok Balingara luas 15.000 ha. Sedangkan biji besi yang ada di kabupaten Morowali dengan luas areal tambang 149.700 ha dimana cadangan terduga 8.000.000 WMT. Blok Tampira mempunyai cadangan infered limonit 6 juta ton, pada blok Ungkaya potensi inferred limonit sebanyak 3.1 juta ton dan Saprolit 0.2 juta ton. Pada blok Bulu Taloa potensi infeered limonit terdapat 1 juta ton dengan kadar rata-rata Fe203 47%.

6. Chromit

Chromit juga merupakan salah satu potensi yang diunggulkan di Propinsi Sulawesi Tengah dimana titik chromit terdapat di Kabupaten Morowali kecamatan Petasia, kecamatan Bungku Tengah dan kecamatan Bungku Barat. Luas areal tambang chromit di kecamatan Bungku Barat sebesar 3000 ha dengan cadangan pasti 88.010 DMT (Dry Metric Ton), dimana cadangan terkira sebesar 459.772 DMT, cadangan terduga 250.000 DMT dengan kadar rata-rata 4% CR2 03.

Galian B (Vital)

1. Tembaga

Potensi Tembaga yang terdapat di Propini Sulawesi Tengah tersebar di kabupaten Park Moutong, Kabupaten Toli-tolii kecamata Dondo, kabupaten Buol kecamata Biau kecamatan Bokat, kabupaten Pos kecamatan Lore Utara dengan cadangan da belum diketahui pada tiap-tiap kabupaten

2. Emas

Emas yang juga dijadikan potensi unggulan terdapat di kabupaten Parigi Moutong kecamatan Moutong yang hingga saat ini masih ditambang secara tradisional oleh masyarakat dengan produksi 0.3-1.0 gram/hari/orang, demikian juga halnya yang terjadi di kecamatan Tolai dan Ampibabo dengan hasil 0.5-1.5 gram/hari/orang. Penambangan tradisional juga masih dilakukan oleh masyarakat kabupaten Toli-toli kecamatan Dondo dan kabupaten Donggala kecamatan Sirenja. Sedangkan di kabupaten Buol kecamatan Palele potensi emas dengan sumber daya tereka 1.000.000 ton dengan kadar emas 30-51 gram/ton dan Ag 125-575 gram/ton yang masih ditambang secara sederhana menggunakan peralatan tromol. Di kecamatan Bunobogu (Bulagidun) sumber daya tereka 15.000.000 ton dengan unsur utama tembaga (Cu) 7% dan Au 0.7 gram/ton. Sedangkan di kecamatan biau cadangan dan kadarnya masih belum diketahui. Untuk di kota Palu sendiri potensi emas terdapat di kecamatan Palu Timur (Poboya) dengan luas areal tambang 49.460 ha, perkiraan cadangan 1.5 juta oz Au (USD 300/oz Au), 1.5 juta oz Ag (USD 5/oz Ag), dengan perkiraan produksi 150.000 oz Au/Tahun, 150.000 oz Au/tahun dengan perkiraan umur tambang 10 (sepuluh) tahun.

3. Wofram – Tungsten

Di kabupaten Poso kecamatan Lore Utara ditemukan Wolfram – Tungsten dalam bentuk Schelite dan Wolframite dengan kadar 1.600 ppm.

4. Molibdenum

Potensi Molibdenum terdapat di kabupaten Toli-toli kecamatan Dondo dengan kadar rata-rata MoS2 = 0.14% dan cadangan mereka 18 juta ton dan di kabupaten Parigi Moutong di kecamatan Moutong dengan cadangan dan kadar yang belum diketahui.

Galian C (Bukan Strategis dan Bukan Vital)

1. Lempung

-Lempung terdapat di :

- Kabupaten Poso kecamatan Poso Pesisir, kecamatan Lage

- Kabupaten Morowali kecamatan petasia, kecamatan Mori Atas

- Kabupaten Banggai Kepulauan kecamatan Banggai, kecamatan Bulage dan kecamatan Buko

- Kabupaten Banggai kecamatan Mamasa, kecamatan Toili dan kecamatan Bunta

- Kabupaten Parigi Moutong kecamatan Sausu, kecamatan Tomini, kecamatan Parigi dan

kecamatan Moutong

- Kabupaten Buol kecamatan Biau kecamatan Bunobogu, kecamatan Bokat dan

kecamatan Momunu

Dari hasil penelitian pemetaan semi mikro 1992/1993 dikecamatan Banawa kabupaten Donggala cadangan Geologi 5.100.000 m3 dan kecamatan Sirenja 592.000 m3.

2. granit

Untuk potensi granit di wiiayah Propinsi Sulawesi Tengah terdapat di :

- Kabupaten Toli-toli di kecamatan Dondo dan kecamatan Galang

- Kabupaten Donggala di kecamatan Dampelas Sojol sdan kecamatan Marawola

- Kabupaten Parigi Moutong di kecamatan Tinombo

- Kabupaten Banggai Kepulauan

Dan granit terbesar dengan cadangan terukur 259.461.283.470 m3 dari hasil pemetaan semi mikro skala 1 : 50.000 dan yang bervariasi seperti merah ros, merah hati, coklat, hitam, putih, abu-abu dan abu-abu kebiru-biruan terdapat di kabupaten Banggai Kepulauan dengan perkiraan luas yang ekonomis yaitu 200 ha dimana kuat tekan 3.000 kg/cm2 dengan warna merah hati.

3. Marmer

Potensi Marmer yang ada diwilayah Propinsi Sulawesi Tengah terdapat di :

- Kabupaten Poso kecamatan Pamona Utara dan kecamatan Poso Pesisir

- Kabupaten Morowali kecamatan Lembo, kecamatan Petasia dan kecamatan Mori Atas

- Kabupaten Tojo Una-una kecamatan Tojo

- Kabupaten Banggai kecamatan Luwuk Timur

- Kabupaten Parigi Moutong kecamatan Tomini

Berdasarkan pendataan di lapangan potensi marmer di beberapa kabupaten di wilayah Propinsi Sulawesi Tengah ini pada umumnya mempunyai warna yang bervariasi seperti putih keabu-abuan, abu-abu kecoklatan, abu-abu kehitaman, merah kecoklatan, hijau rnuda, hijau tua, hijau kehitaman, dan hitam, dimana marmer jenis ini memiliki sifat fsik yang kompak dan keras (4-5 skala Mohs).

4. 0 n y x

Potensi Onyx di wilayah Propinsi Sulawesi Tengah terdapat di Kabupaten Morowali tepatnya di kecamatan Petasia dengan jenis Onyx yang berwarna kuninggading kecoklatan dan memiliki cadangan luas sebesar 25 ha.

5. Batu gamping

Batu Gamping yang juga merupakan salah satu potensi unggulan di wilayah Propinsi Sulawesi Tengah tersebar di :

- Kabupaten Poso kecamatan Lage, Kecamatan Poso Pesisir, Kecamatan Pamona Utara (luas areal tambang belum diketahui)

- Kabupaten Banggai kecamatan Luwuk Kecamatan Kintom, Kecamatan Pagiman dan Kecamatan Luwu Timur

- Kabupaten Donggala kecamatan Banawa luas tambang 500.000.000 M3 (sesua hasil penelitian), Kecamatan Sindue luas areal tambang 12.000.000 M3 (sesua hasil penelitian), Kecamatan Sirenja dan Kecamatan Damsol

6. Phospat

Potensi Phospat terdapat di kabupaten Donggala tepatnya di Desa Kabonga desa Kabonga Besar dan Tanjung Batu, selain itu di kabupaten Poso juga terdapal potensi Phospat tepatnya di desa Sulewanc kecamatan Pamona Utara yang ditemukan dalam gua-gua kapur.

7. Mika

Potensi Mika yang ada di kabupaten Banggai terdapat di kepulauan Peling, sedangkan yang ada di kabupaten Poso terletak di kecamatan Lore Selatan.

8. Kaol i n

Potensi Kaolin di wilayah Sulawesi Tengah terdapat di :

- Kabupaten Parigi Moutong kecamatan Parigi

- Kabupaten Morowali kecamatan Mori Atas

- Kabupaten Poso kecamatan Lore Utara

- Kabupaten Banggai kepulauan kecamatan liang, kecamatan Banggai dan kecamatan Bulagi

- Kabupaten Donggala kecamatan Kulawi dan kecamatan Balaesang Dimana cadangan untuk tiap kabupaten belum diketahui.

9. Gipsum

Potensi Gipsum terdapat di kabupaten Donggala / Kota Palu tepatnya di kecamatan Tawaeli, dan di kabupaten Banggai kecamatan Banggai yang dijumpai di desa Kendek seluas 200 ha berwarna putih kaca berbentuk bongkah dengan cadangan beluym diketahui didesa Sampekoan kecamatan Liang seluas 200 ha dengan cadangan yang belum diketahui.

10. Pasir feldspar

Pasir Felspar yang ada di kabupaten Donggala terdapat di kecamatan Balaesang, kecamatan Dampelas Sojol dan kecamatan Sirenja, sedangkan di kabupaten Toli-toli Pasir Felspar terdapat di kecamatan Dondo, kecamatan Dampal Utara dan kecamatan Dampal Selatan. Dimana endapan Pasir Felspar - Kuarsa umumnya berwarna abu-abu kehitaman dan kecoklatan. Komposisi utama endapan pasir felspar - kuarsa : kuarsa 19.5% - 88%, Felspar 4.5%-29%, Mineral Mefk 1.7% -11.98%. Potensi geologi yaitu di kabupaten Donggala 57.911.00 m3, kabupaten Toli-toli 13.300.000 m3 (Pemetaan semi mikro tahun 1992/1993).

11. Pasir Kuarsa

Potensi Pasir Kuarsa di wilayah Sulawesi Tengah di kabupaten Donggala kecamatan Moutong dan kecamatan Balaesang, sedangkan di kabupaten Banggai Kepulauan terdapat di Desa Lambako

12. G i ok

Giok terdapat di wilayah Kabupaten Poso tepatnya di Pegunungan Pompangeo, Sungai Kusek, Sungai Salin Guru, Sungai Mambulaba, Sungai Uemaramu, Sungai Uemadagu dan sungai Kuseh Malino dan kecamatan Lore Utara.

13. Batu apung

Batu Apung terdapat di kabupaten Bangga kepulauan tepatnya di kecamatan Bulagi.

14. T a l k

Talk terdapat di kabupaten Poso kecamatan Pamona Timur dan di sekitar Pegunungan Pompangeo.

15. As be s

Asbes diwilayah Sulawesi Tengah terdapa di kabupaten Tojo Una-una kecamatan Ulubongka (berbentuk serat, berwarna hijau muda dengan cadangan yang belum diketahui.

16. D i o r i t

Potensi ini terdapat di :

- Kabupaten Donggala tepatnya di kecamatan Marawola

- Kabupaten Buol kecamatan Biau, dan kecamatan Bunobogu

- Kabupaten Morowali kecamatan Petasia, kecamatan Lembo, kecamatan Mori Atas, kecamatan Bungku Tengah, kecamatan Bungku Selatan, dan Kecamatan Bungku Barat

- Kabupaten Tojo Una-una kecamatan Ulu bongka, kecamatan Ampana Tete

- Kabupaten Banggai Kepulauan kecamatan Totikum, kecamatan Bokan, Kecamatan Banggai, kecamatan Lobangkurung, kecamatan Liang, Kecamatan Tinangkung, Kecamatan Bulage, kecamatan Bulage Selatan, dan kecamatan Buko.

Sesuai data hasil pemetaan semi mikro 1992/1993 Potensi Sumber Daya atau cadangan geologi di kecamatan Banawa dan kecamatan Sindue kabupaten Donggala masing-masing 500.000.000 m3 dan 12.000.000 m3 dengan kadar CaO rata-rata 53% sedangkan di kabupaten Banggai kepulauan cadangan 3.500 ha baik untuk bahan baku semen porland.

17. Dolomit

Dolomit terdapat di kabupaten Banggai kecamatan Luwuk Timur dengan kadar magnesium 13,7% dan di kecamatan Pagimana dengan kadar Magnesium 34,22%.

TabelSektor Pertambangan

Komoditas Unggulan Sektor Pertambangan

No. Jenis Tambang Lokasi  
1. Marmer dan Granit Donggala Pegunungan Gawalise dan Pesaku, 23 km dari Kota Palu. Pelabuhan Donggala dan Pantoloan 
2. Marmer dan Granit Parigi
  • Pegunungan (perbukitan dan sungai Morontale Kec. Ampibabo, 
  • Perbukitan Tolae Kec.Sausu, 
  • Sungai Parigimpu Kec. Parigi,
  •  Sungai Ogomojalo Lambori Kec.Tomini 
. Marmer dan Granit Toli-Toli Kec.Galang dan Kec.Dondo, 23 km dan 65 km dari Toli-Toli dan 430 km dari Kota Palu, Jalan beraspal, Pelabuhan Laut Toli-Toli, Soni, Ogotua
4. Marmer dan Granit Poso Pegunungan Pamona Utara 56 km dari Kota Poso, 276 km dari Kota Palu, Jalan beraspal dan Pelabuhan laut Poso.
5. Marmer dan Granit Banggai Kepulauan Desa Lambako, 9 km dari Kota Banggai, dan di Desa Tolisetubono dan Paisumosoni (10 jam motor laut dari Luwuk) 

e. Sektor Pariwisata

Sektor Pariwisata

1. Sou Raja

Rumah Raja atau Sou Raja yang juga disebut Banua Mbaso yang berarti 'Rumah Besar'. Rumah berbentuk panggung ini merupakan warisan nenek moyang keluarga para bangsawan suku Kaili. Saat ini Banua Mbaso masih ditemukan di Biromaru, Tawaeli, Donggala dan Parigi. Di dalam Kota Palu, Sou Raja terdapat di Kampung Lere. Bangunan ini masih terawat baik dan sering di kunjungi sebagai obyek wisata.

2. Pantai Talise

Pantai Talise yang membentang di Jl. Rajamoili dan Jl. Cut Mutia Palu merupakan objek wisata bahari yang memiliki panorama indah. Cocok untuk olahraga Selancar Angin, Ski Air dan sebagainya. Di pantai ini juga pengunjung dapat menikmati terbenamnya matahari di sela-sela gunung Gawalise sambil menyaksikan para nelayan menjala ikan. Pada malam hari, pantai yang terletak di tengah kota Palu ini banyak di kunjungi masyarakat untuk menikmati makanan dan minuman tradisional.

3. Museum Negeri Palu

Meseum Negeri Palu terletak di JI.Kemiri No. 23 Palu. Menyimpan kurang lebih 7.000 koleksi. Sebagian koleksi tersebut ditata dalam 2 (dua) gedung pameran tetap dan sebagian lainnya masih tersimpan di dalam gedung penyimpanan koleksi. Dalam gedung pameran tetap, dapat disaksikan aneka kebudayaan dari 12 etnis seperti upacara Daur Hidup, pembuatan Kain Tenun Donggala, Meramu Sagu dan Pembuatan Kain Kulit Kayu. Museum ini menjadi obyek peninjauan para pelajar dan siswa serta menerima kunjungan para wisatawan

4. Makam Datuk Karamah

Makam Datuk Karamah yang terletak di Kampung Lere, Kota Palu, merupakan saksi sejarah masuknya agama Islam pertama di Sulawesi Tengah. Nama asli Datuk Karamah adalah Abdullah Raqie, seorang tokoh agama Islam asal Minangkabau, Sumatera Barat. Sekitar abad 17 Abdullah Riqie tiba di Palu untuk menyebarkan agama. la diberi gelar Datuk Karamah karena memiliki kesaktian. Masyarakat mengaguminya dan memeluk agama Islam termasuk Raja Kabonena bernama I Pue Njidi. Datuk Karamah menikah dengan Ince Jilie dan dikarunia dua anak perempuan, Ince Dongho dan ince Sahari Banong. Karena di anggap memiliki kesaktian makam Datuk Karamah hingga kini menjadi tempat dziarah, bahkan sering didatangi orang untuk melepaskan nazar.

5. Tenunan sarung Donggala

Salah satu kerajinan tancan daerah Sulawesi Tengah yang terkf.rial adalah Sarung Tenun Donggala. Sarung Tenun Donggala diproduksi dalam bentuk tenuri ikat yang memiliki ciri-ciri dan motif spesifk. Teknik pembuatannya masih oleh tangan dengan peralatan tradisional dan lama pengerjaannya bisa mencapai 1 minggu untuk 1 buah sarung. Bahan baku berasal dari benang yang sudah diberi zat pewarna. Para wisatawan dapat menyaksikan atraksi penenunan di kecamatan Banawa, desa Towale, desa Watusampu dan desa Wani di kecamatan Tawaili, Kabupaten Donqqala.

6. Pulau Pasoso

Pulau Pasoso terletak di kecamatan Balaesanc kabupaten Donggala, sekitar 100 kilomete utara kota Palu. Pulau Pasoso dapat dicapa dengan jalan darat dan dilanjutkan dengar motor laut. Perjalan ke pulau Pasoso dar Palu menuju Labean dan dilanjutkan melalu laut selama 3 jam. Pulau Pasoso dikena sebagai pulau penyu terutama penyu hijai yang populasinya sangat tinggi. Antara bulan September dan Oktober penyu-penyu itu bertelur di pesisir pulau Pasoso. Wisatawan juga dapat menikmati terbit dan terbenamnya matahari.

7. Pusentasi

Terletak di desa Towale, kabupate Donggala kurang lebih 12 kilometer da kota Donggala. Kata pusentasi (bahas Kaili) berarti pusar air laut atau sumur lad Pusentasi adalah sebuah gua laut yan masih terhubung dengan laut oleh beberap saluran yang tersembunyi. Sumur air laut terletakdi daratantapi airnyaterasaasindi jernih sehingga kita dapat melihat ikan-ikan berenang di dalamnya. Kawasan ini dikena sebagai obyek wisata alam. Disekitar objd wisata pusentasi dapat disaksikan pan pengrajin tenun sarung Donggala.

 8. Desa Watunonju

Lumpang batu Watunonju merupakan peninggalan sejarah bernilai tinggi. Objek ini terletak di desa Watunonju, kecamatar Biromaru, Kabupaten Sigi, yang berjarak sekitar 18 kilometer dari kota Palu. Benda purbakala yang namanya diabadikan pada nama Desa Tempat Watunonju berada. Tidak jauh dari watunonju, masih terdapat peninggalan sejarah jaman kuno seperti penumbuk padi dan rumah tradisional Lobo dan Gampiri masih terawat dengan baik hingga sekarang.

9. Air Panas Bora

Air Panas Bora terletak di desa Bora kabupaten Sigi, kurang lebih 20 kilometer selatan dari kota Palu. Memiliki panorama alam indah yang dari celah-celah gunung mengalir air panas yang ditampung pada bak penampungan. Untuk mencapai objek wisata ini, pengunjung melewati perkampungan tradisional.

10. Tanjung Karang

Pantai Tanjung Karang terdapat di kabupaten Donggala 34 kilometer dari kota Palu, dapat ditempuh dengan mobil. Sepanjang perjalanan menuju Tanjung Karang, kita dapat menyaksikan birunya air laut, pasir putih. Pantai ini juga memiliki pemandangan alam bawah laut yang dikagumi oleh para wisatawan dimana dihuni oleh ikan-ikan dan terumbu karang yang berwarna warni. Anda dapat menikmatinya dengan menyelam pada siang dan malam hari. Terdapat beberapa tempat penginapan dari yang sederhana sampai yang dikelola oleh Prince John Resort.

11. Lembah Pipikoro

Lembah Pipikoro terletak di kecamatan Pipikoro, kabupaten Sigi dan bisa dijangkau dengan bus selama 2 jam dari Palu ke Gimpu dan dilanjutkan dengan berjalan kaki atau naik kuda. Lembah ini menjadi daerah tujuan wisata alam karena mempunyai panorama yang sangat indah, sekaligus sebagai pembatas antara wilayah propinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Perjalanan ke lembah Pipikoro sangat menantang. Pengunjung dapat melakukan trekking dari Gimpu-Tubo-Mapahi-Peana-Towulu dan bisa juga dengan menyusuri sungai Wotiora untuk meneruskan perjalana ke Donggala atau berjalan kaki dari Peana ke Kota-Gimpu. Di desa Mapahi, mengunjung dapat menyaksikan pembuatan kain dari kulit kayu. Sedangkan di desa Kantewu dan Tuwulu dapat disaksikan pembuatan senjata tradisional seperti sumpit. Daya tarik lain dari lembah Pipikoro adalah tarian tradisional Raego. Tarian ini bisa disaksikan di desai Morui dan Banasu. Pengunjung yang datang ke Pipikoro bisa menginap di rumah penduduk.

12. Gua Pamona dan Latea

Gua Pamona yang terletak ± 57 kilometer dari kota Poso atau 258 kilometer dari kota Palu dapat ditempuh dengan kendaraan darat. Sementara Gua latea terletak di pinggiran desa Tentena, tak jauh dari Gua pamona. Ratusan tahun yang lalu masyarakat suku Pamona, kabupaten Poso, menyimpan mayat dalam gua, seperti dalam kebudayaanToraja. hingga kini gua tersebut tetap menjadi salah satu obyek wisata yang menarik.

13. Air Terjun Saluopa

Air Terjun Saluopa terletak di sebelah barat kota Tentena, ibukota kecamatan Pamona utara, kabupaten Poso. Untuk mencapai air terjun dapat di gunakan kendaraan darat dan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 500 meter. Air Terjun Pamona merupakan salah satu air terjun bersusun 12 tingkat. Keunikannya karena pengunjung dapat naik ke tingkat paling atas melalui batu-batuan yang tidak berlumut di bawah derasnya air.Di sektiar air terjun terdapat hutan tropis, hal ini menambah keindahan panorama alam Air Terjun Saluopa.

14. Air Luncur Sulewana

Sumber Air Luncur Sulewana berasal dari Danau Poso. Jaraknya 12 kilometer dari kota Tentena dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat atau roda dua. Air Luncur Sulewana terkenal  arena alirannya sangat deras. Derasnya aliran dapat didengarpadajarak 500 meter. Sebuah penelitian mengeluarkan rekomendasi bahwa Air Luncur Sulewana dapat dijadikan sumber pembangkit tenaga listrik. Daya listrik yang dihasilkan mencapai 800 megawatt dan dapat melayani kebutuhan listrik untuk seluruh pulau Sulawesi.

15. Danau Poso

Terletak di kota Tentena pada posisi strategis lintasan perjalanan Trans Sulawesi antara Toraja, Poso Gorontalo dan Manado membuat Danau Poso selalu disinggahi wisatawan. Danau Poso dapat dicapai dengan perjalanan darat 57 kilometer dari kota Poso atau 283 kilometer dari kota Palu. Luasnya bisa mencapai ± 32.000 hektar yang membentang dari utara ke selatan sepanjang 32 kilometer dengan lebar 16 kilometer dan kedalaman mencapai 510 meter.

Danau yang terletak pada ketinggian 657 meter pada permukaan laut memiliki keunikan karena berpasir putih dan kuning keemasan serta bergelombang seperti air laut. Panorama alam di sekeliling danau sangat indah. Perbukitan dan hutan di sekitarnya berdiri tegar memagari danau. Udara yang sejuk membawa kesegaran bagi para Pengunjung. Meskipun terjadi banjir pada sungai-sungai yang bermuara di danau ini, Air Danau Poso sangat jernih dan tidak keruh.

16. Taman Laut Togian

Taman Laut Togian terletak di kecamatan Tojo Una-una. Perjalanan menuju Togian dapat ditempuh dalam 4 jam jalan darat dari kota Poso yang berjarak 155 kilometer dan dilanjutkan dengan motor laut selama ± 4-5 jam. Objek wisata eksotik ini merupakan salah satu unggulan objek wisata di Sulawesi Tengah karena memiliki keindahan tiada tara. Alam bawah laut Togean merupakan surga bagi wisatawan dimana dihuni oleh coral tropis (seafan, soft coral sea sponge) dalam ukuran jumbo, serta berbagai spesies ikan hias dan kepiting kenari. Memancing, berlayar, berenang, dan menyelam dapat dilakukan setiap saat. Taman Laut Togian diperindah dengan deretan pulau-pulau kecil dan besar berhutan lebat. Babi rusa dan Tangkasi adalah hewan yang menghuni hutan-hutan itu. Perumahan suku bajo, hilir mudik nelayan dan deretan cottage di pinggir pantai menambah keindahan alam Togean. Pulau-pulau di Togian juga memiliki pantai berpasir putih. Cocok bagi wisatawan yang suka berjemur sembari menikmati matahari terbenam. Pulau ini terletak berdekatan dengan desa Tomoli kecamatan Ampibabo yang berjarak 97 kilometer dari kota Palu dan dapat dicapai dengan semua jenis kendaraan. Berenang dan menyelam dapati dilakukan di obyek wisata ini.

17. Populasi Maleo di Sausu Peoreh

Burung Maleo di Sulawesi Tengah dapat dijumpai di beberapa tempat. Salah satunya di desa Sausu Peoreh, Kabupaten Parigi Moutong. Lokasi ini dapat di capai dengan bus selama 2 jam dari kota Palu. Burung Maleo atau maccrocephalon maleo, adalah rumpun megapodiidae yang suka membuat gundukann atau sering disebut burung inkubator. Rumpun burung ini ditemukan di Indonesia Timur hingga Polinesia dan Australia. Tetapi di Indonesia Timur, burung Maleo hanya hidup di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Burung ini berbulu hitam dan putih mencolok dengan dada merah jambu, ekor berdiri tegak dan kepala gundul. Besarnya sebesar ayam betina dengan berat l.Skilogram. Burung Maleo menggunakan sumber panas dari luar menetaskan telurnya. Burung ini biasanya menghuni pantai berpasir yang dipanasi matahari, sumber-sumber air panas atau lubang-lubang gunung berapi.

18. Panjat Tebing Linggawali

Olahraga panjat tebing ini dapat dilakukan di Likunggawali, Marantale, Karena disini terdapat tebing yang curamnya mencapai 80 meter sehingga tempat ini menjadi salah astu obyek panjat tebing yang terbaik. Ada juga Air Terjun Toramaya yang berjarak 4 kilometer dari desar Towera dimana kita dapat melihat sarang burung walet putih (collocalia fuciphagus). Bagi wisatawan yang senang trekking/hiking maka Likunggawali juga menjadi pintu masuk trekking dari pantai timur ke Janaedo selama 3 hari perjalanan. Obyek wisata ini dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat kurang lebih 3 jam dari Palu.

19. Pulau Makakata

Terletak di kecamatan Parigi, 85 kilometer dari kota Palu. Pulau ini dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat sekitar 2.5 kilometer dan dilanjutkan dengan naik motor boat 25 menit. Pulau ini memiliki panorama alam yang indah dan dihuni oleh masyarakat etnik Bajou yang terkenal dengan cara menangkap ikan yang masih tradisional.

20. Cagar Alam Morowali

Lokasi Cagar Alam Morowali dapat ditempuh dengan bus dari Kota Palu ke Kolonedale sejauh 431 kilometer atau 10 jam perjalanan. Dari Kolonedale perjalanan dilanjutkan dengan motor laut selama 1 jamrCagar Alam Morowali mempunyai Iuas225.000 hektar dan terletak di kabupaten Morowali. Cagar Alam Morowali dihuni oleh berbagai jenis binatang dan berfungsi sebagai pelindung hutan tropis di pulau Sulawesi. Ekosistem yang ada di dalam kawasan lindung beranekaragam ini mulai dari pantai, hutan mangrove, hutan alluvial dataran rendah, hutan rawa, hutan pegunungan dan hutan lumut pada ketinggian 2.600 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini juga memiliki sebuah danau dan 3 sungai utama.

Dalam kawasan Cagar Alam Morowali terdapat masyarakat tradisional suku Wana yang berjumlah sekitar 2.000 orang. Masyarakat Wana yang belum mengenal kehidupan modern ini berdomisili di desa Posangke, desa kayupoli, desa Uwewaju, desa Ratobae, desa Sangkoe dan desa Langada. Pulau ini pernah disinggahi oleh seorang pelaut dari Inggris yang bernama Sir Francis Drake pada abad ke 17. Untuk mengenang peutalangan Drake, tahun 1980 dilaksanakan Operation Drake yang dilakukan oleh para ilmuwan dan pelajar dalam penelitian

21. Taman Laut Teluk Tomori

Keindahan Teluk Tomori selalu menjadi buah bibir. Para nelayan tradisional di pulau Rumbia dan Pengia, Batu Bayung atau batu Apali, Gua Telapak Tangan Kanan dan Tempayan Besar di Gililana adalah obyek wisata yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi pengunjung Air laut jernih dan alam bawah laut yang indah di pulau Pengia dan pulau Tomori juga selalu menggoda pengunjung untuk singgah di teluk yang berada di depan kota Kolonedale itu. Belum lagi Tappo Hulu atau Gua telapak Tangan Kiri serta tulang belulang manusia di Gua batu Putin. Sementara itu, deretan pulau Lampu, pulau Tokabe, pulau bunda dan pulau Tomori yang ditumbuhi pohon nyiur seakan tidak berhenti melambai para pelancong yang datang dan pergi.

22. Pulau Lutungan

Pulau Lutungan berjarak 456 kilometer dari kota Palu dengan jalan darat dan dilanjutkan dengan perariu 25 rnenit dari Pelabuhan Tanjung batu. pulau ini terletakdi arah barat tolitoli dikelilingi air dan pantai berpasir. Pulau ini dianggap sebagai tempat keramat dan dikunjungi oleh masyarakat dengan tujuan mencari berkah atau bermohon sesuatu pada pulau tersebut. Caranya dengan menancapkan pelepah kelapa ke dalam tanah lalu mencabutnya. Mereka yakin bawah jika pelepah menjadi pendek berarti permintaan ditolak. Tetapi jika pelepah menjadi panjang maka permintaan diterima

23. Tanjung Matop

Tanjung Matop terletak di pulau matop, tepatnya di desan Pinjan, kecamatan Tolitoli Utara. Untuk mencapai pulau matop pengunjung dapat menggunakan semua jenis kendaraan dengan menempuh jarak 80 kilometer dari Tolitoli atau 523 kilometer dari kota Palu. Di Tanjung Matop terdapat burung maleo, penyu sisik hijau, kera hantu (tarsius), burung enggang, kepiting kenari, ikan napoleon dan sarang burungwalet. Lokasi ini termasuk hutan lindung.

24. Air Terjun Sigelang

Air terjun ini jaraknya 15 kilometer dari kota Tolitoli, dan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 3 kilometer dari desa Oyom. Sebagai tempat rekreasi yang dikelola masyarakat setempat, air terjun ini banyak dikunjungi khususnya oleh kaum remaja di hari-hari libur. Para pengunjung setelah mandi-mandi dapat pula menikmati makanan atau minuman hangat.

25. Pemandian Alam Komalingon

Terletak di desa Komaigan sekitar 8 kilometer arah selatan buol dan dapat dicapai dengan semua jenis kendaraan. Dari desa Komalingon dilanjutkan dengan jalan kaki sejauh 5 kilometer. Pemandian alam ini merupakan tempat rekreasi masyarakat dan juga sudah dikunjungi wisatawan mancanegara.

26. Pulau Busak

Terletak berhadapan dengan desa Busak maka disebut dengan nama pulau Busak yang berpasir putih. Jarak pulau ini dari Buol ± 23 kilometer dan dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat dan dilanjutkan dengan perahu dayung selama 15 menit. Di pulau ini terdapat pohon kelapa dan kebun buha-buahan milik masyarakat. Sejak dahulu hingga sekarang, pulau Busak dijadikan sebagai tempat musyawarah bagi anggota masyarakat dalam merundingkan suatu permasalahan penting.

27. Air Terjun Pinamula

Air Terjuna Pinamula terletak di pinggiran sungai Pinamula dengan ketinggian 25 meter. Untuk mencapai objek ini dari Buol dapat menggunakan kendaraan roda empat menempuh jarak 15 kilometer dan dilanjutkan dengan jalan kaki dari desa Pinamula ke air terjun sejauh 3 kilometer. Suhu disekitar ait terjun ini sangat sejuk dan cocok untuk berekreasi di akrhi pekan. Bagi wisatawan yang ingin trekking di sekitar air terjun harus menggunakan jasa masyarakat setempat sebagai pemandu.

28. Pantai Kilo Lima

Objek wisata ini ramai dikunjungi oleh masyarakat kota Luwuk karena letaknya dekat dari kota. Deretan kios, cafe serta warung makan menjadi pemandangan khas. Ombak pun sering menghempas pantai mengiringi keceriaan pengunjung. Bersampan, berenang, ski atau selancar merupakan atraksi yang dapat dilakukan di pantai Kilo Lima, usai atraksi pengunjung dapat melepas kepenatan sembari menikmati makanan khas seperti nasi goreng, pisang goreng atau minuman segar.

29. Suaka Margasatwa Salodik

Salodik memiliki panroam alam yang indah terletak 27 kilometer dari kota Luwuk. Untuk mencapai Cagar Alam Salodik ditempuh dengan kendaraan roda empat selama 40 menit dari Kota Luwuk. Daya tarik utama Cagar Alama Salodik berupa air terjun bersusun-susun. Selain air terjun, objek yang berada pada ketinggian 600 meter di atas permukaan laut ini memiliki hutan yang lebat. Kicauan burung dari balik dedaunan yang rimbun seakan menyapa setiap pengujung. Karena alamnya yang indah, belanda pernah mendirikan pesanggaran di lokasi ini. Puing puing tempat peristirahatan bekas peinggalan Belanda tersebut masih ada sampai sekarang

30. Pulau tikus

Perjalanan ke pulau Tikus dapat ditempuh dengan motor laut selama 3 jam dari kota Luwuk. Pulau Tikus yang sanagt indah ini dikelilingi pasir putih dan ditumbuhin pohon kelapa.Suasana di pulau sangat tenang dan sejuk. Dipulau ini juga pengunjung dapat menyaksikan atraksi ikan lumba-lumba yang berenang di pesisir pulau Tikus dan dapat juga melakukan kegiatan berenang dan menyelam untuk menikmati alam bawah laut yang indah.

31. Pulau Sampu-sampuan

Pulau Sampu - sampuan adalah sebuah pulau kecil ;ang hanya berukuran sekitar 2 kilometer persegi dan untuk mencapainya dapat menggunakan motor laut dari kota Luwuk selama 4 jam perjalanan. Pulau ini memiliki pasir putih dan pantainya bergu-gua. Keindahan alam bawah lautnya sangat menakjubkan karena memiliki berbagai jenis ikan hias yang unik. Sangat cocok bagi mereka yang gemar melakukan berenang dan menyelam sembari bernostalgia.

32. Keraton Raja Banggai

Keraton Raja Banggai merupakan peninggalan Raja Banggai yang keadaannya masih terpelihara dengan baik. Objek wiasta budaya ini terpelihar dengan baik. Objek wisata budaya ini berjarak 72 kilometer dari kota Luwuk dan dapat ditempuh dengan kapal laut selama 9 jam. Lokasi keraton terdapat di tengah kota Banggai kabupaten Banggai Kepulauan dimana di dalamnya terdapat keris kerajaan, payung kerajaan, alat musik kulintang dan pakaian kebesaran raja. Keraton Banggai diperkirakan berdiri pada abada ke 13 tahun saka 1478 atau tahun 1365 Masehi. Kerajaan ini berada dibawah pengaruh Kesultanan Ternate di Maluku Utara. bentuk bangunan keraton menyerupai keraton-keraton yang ada di Tidore dan Ternate karena hubungan historis.

Kerajaan Banggai dikenal sebagai kerajaan yang paling demokratis di dunia, karena tidak mengenal putra mahkota atau ahli waris. Siapa pun bisa diangkat sebagai raja atas keputusan Basalo Sangkep. Basalo Sangkep berfungsi sebagai Majelis Permusyawaratan Rakyat atau wakil rakyat. Kerajaan Banggai juga memiliki bendera berwarna merah putih bersusun 13. Bendera ini merupakan warisan rumpun keramat Paisutobui.

33. Makam raja Mandapar

Makam Raja Mandapar terletak di kelurahan Lompio, kota Banggai. makam yang hanya terbuat dari timbunan batu-batuan dengan bangunan rumah pelindung ini terkesan sangat sederhana. Meski demikian makam ini banyak dikunjungi oleh masyarakat maupun wisatawan lokal dan mancanegara sebagai peninggalan sejarah karena Mandapar adalah seorang raja yang populer. Raja Mandapar dimakamkan pada tahun 1625 atau setelah 25 tahun ia memerintah. Mandapar adalah putra panglima perang Kesultanan Ternate, Adi Cokro, yang diberi gelar Mumbu Doi Jawa. Adi Cokro yang juga dikenal dengan Adi Soko adalah tokoh yang menyatukan wilayah banggai Kepulauan dan Banggai Darat. Panglima perang ini kawin dengan seorang putri Portugisdan melahirkan Mandapar. Raja Mandapar diberi gelar Mumbu Doi Godong. Tak jauh dari makam Raja Mandapar terdapat pasar tradisional Banggai. Dari ketinggian makam juga dapat dilihat teluk Banggai dengan panorama yang indah. Nelayan tradisional hilir mudik mencari nafkah, sementara rumah suku Bajou di atas laut menjadi pemandangan yang mempesona.

34. Rumah Keramat

Di kota Banggai terdapat 3 rumah keramat. Rumah Keramat Babolau, Rumah Keramat Kokini dan Rumah Keramat Putal. Salah satunya terletak di kelurahan Lompio. Dirumah keramat ini terdapat sebuah kendi atau bejana sebagai tempattinggal Putri Saleh Butu Bulugaus. Putri Bulugaus dalam waktu tertentu keluar dari kendi dan menampakkan diri pada orang sekitarnya. Konon, Putri Bulugaus adalah seorang Raja Banggai. la mempunyai seorang saudara laki-laki bernama Abu Gasim. Entah mengapa dalam keseharian kedua akan beradik ini sering terjadi pertengkaran. Putri Bulugaus akhirnya meninggal dan dimakamkan diRumah Keramat di Kelurahan Lompio, sedangkan Abu Gasim dimakamkan di Rumah Keramat di kelurahan Dodung. Sebagaimana Putri Bulugaus,Abu Gasim juga sering menampakkan diri.

35. Pantai Lambangan Pauno

Objek ini berupa tempat pemandian pingir pantai di desa Kendek yang berjarak 10 kilometer dari kota Banggai. Lambangan Pauno menjadi objek wisata yang sangat representatif karena dapat dicapai dengan mobil atau sepeda motor. Lokasi ini memanjang sekitar 200 meter dengan pasiri putih bersih. Batu karang, tebing terjal dan pohon ketapang memagar di ujung kiri kanan pantai membuat pemandangan menjadi indah. Ombak pantai seakan tak henti berkejaran sembari menghempas ketika air pasang. Sementara saat air surut nampak bagaikan lapangan luas membentang. Pada musim tertentu air laut mengikis pasir-pasir pantai dan tertinggal hanya batu-batuan berwarna hitam. Sementara pada musim lainnya batu-batuan itu ditutupi kembali oleh pasir putih.

Komoditas Unggulan Sektor Pariwisata 

No. Kabupaten/ Kota Potensi Wisata 
1. Kab. Toli-Toli Suaka Margasatwa P.DolonganPulau Lutungan
2. Kota Palu Taman Laut Tanjung Karang Air Panas MantikoleTari Paulu Cinde, Pamonte, Nabai Keluku
3. Kab.Parigi Moutong Teluk TomoriBurung MaleoTugu KhatulistiwaTari Jepeng
4. Kab.Donggala Taman Nasional Lore Lindu 230.000 Ha mengandung potensi Flora Fauna Tropis Khas Sulawesi dan Patung MegalitArung Jeram Sungai Lariang
5. Kab.Poso Taman Nasional Lore LinduHutan Anggrek BanceaAir Terjun SulewanaDanau PosoGoa Lalea
6. Kab.Morowali Cagar Alam Morowali 200.000 Ha yang dihuni oleh Suku WanaTaman Laut Teluk TomoriBungku, Kolonodale, Beteleme
7. Kab.Tojo Una-Una Cagar Alam Tanjung ApiKepulauan Togean (Teluk Tomini) 
8. Kab.Banggai Suaka Margasatwa BangkiriangPantai Kilo 5 LuwukSalodik
9. Kab.Banggai Kepulauan Labobo Bangkurung (Pulau Tolobundu) Pantai Lambungan Pauno
10. Kab.Buol Pemandian Alam KemalingonAir Terjun PinamulaSuaka Margasatwa Pinjan/  Tanjung MatobWisata Agro BuolPulau Busak

 Distribusi Potensi Komoditas Unggulan Tanaman Jarak Pagar (Jathropa)

No. Kabupaten/ Kota Potensi Lahan
1. Kab.Toli-Toli 11.662 Ha
2. Kota Palu 6.540 Ha
3. Kab.Parigi Moutong 69.861 Ha
4. Kab.Donggala 11.464 Ha
5. Kab.Poso 2.062,80 Ha
6. Kab.Morowali 42.329 Ha
7. Kab.Tojo Una-Una 4.813 Ha
8. Kab.Banggai 77.476 Ha
9. Kab.Banggai Kepulauan 11.662 Ha
10. Kab.Buol 8.032 Ha
Total 245.902 Ha

Peluang Investasi

Bidang Usaha Industri Pilihan :
Jenis usaha industri yang tidak memerlukan banyak lahan dan air , bahan baku cukup banyak tersedia, tidak menimbulkan polusi dan berorientasi ekspor dan pasar dalam negeri :

  • Industri Cocoa Powder dan Cocoa Butter (ada visibility study)

1. Potensi Sumber Daya kakao
Potensi sumber daya kakao yang tersedia diperkirakan ± 129.372 ton pertahun dengan sumbangan perkebunan rakyat sebesar 111.554 ton pertahun
♦ Luas areal perkenbunan kakao yang tersebar di Kabupaten/Kota se-Sulawesi Tengah sebesar 173.039 Ha.
  Tanaman yang sudah menghasilkan 107.419,74 Ha.
  Tanaman yang belum menghasilkan 20.181,72 Ha.
  Tanaman tua/rusak 1.770,54 Ha.
♦ Luas pengembangan usaha dilaksanakan perkebunan rakyat sebesar 79.042,39 Ha, perkebunan besar swasta 4.689 Ha

2. Bahan baku
Bahan baku diperoleh dari:
• Petani
• Pedagang
• Pengumpul dan Eksportir

3. Lokasi yang disarankan
Pertimbangan utama penentuan lokasi adalah:
Sentra produksi bahan baku
Lokasi pabrik yang direncanakan untuk keberhasilan proyek adalah:
• Untuk wilyah Kabupaten banggai Kepulauan, Banggai, Morowali, Poso dan parigi Moutong. Lokasi startegis untuk industri pengolahan di Kabupaten Parigi Moutong
• Untuk wilayah Kabupaten Buol, Toli-tolia, Donggala dan kota Palu, Lokasi startegis untuk industri pengolahan di Kota Palu.
Penetapan lokasi ini merupakan daerah yang memiliki dan tersedia:
• Infrastruktur yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha
• Relatif dekat dengan daera-daerah produsen biji kakao
• Dekat dengan dermaga Pantoloan untuk pengangkutan ekspor

4. Pengendalian mutu kakao
4.1. Proses pengolahan
• Pemeraman/Fermentasi
• Pencucian
• Pengeringan
• Sortasi
4.2. Mutu biji kakao kering Sulawesi Tengah
• 90% mempunyai mutu A
  Warna merah/coklat merata dab biji bulat penuh
• 10% mempunyai mutu B
  Warna merah/coklat kurang merata bercak-bercak dan biji kurang bulat

5. Investasi
Profitabilitas:
> NET B/C = 1,240
> IRR = 34,93%
> NPV 16% = 2.773.683.101,46
> Pay back Period = 2,45 tahun
> Komponen Investasi
   Komponen Aktiva:
   - Tanah Rp.50.000.000,-
   - Bangunan
     1. Bangunan Produksi Rp.150.000.000,-
     2. Bangunan Gedung Rp.187.500.000,-
     3. Bangunan kantor Rp.30.000.000,-
     4. Lantai jemur Rp.18.000.000,-
   - Mesin dan peralatan Rp.350.000.000,-
   - Kendaraan Rp.450.000.000,-
   - Inventaris kantor Rp.50.000.000,-
   - Biaya Investasi Rp.1.288.500.000,-
> Modal kerja
   - Bahan baku Rp.3.750.000.000,-
   - Tenaga kerja Langsung Rp.234.000.000,-
   - BOP Rp.189.662.500,-

6. Infrastruktur
Transportasi Laut:
a. Pelabuhan Pantoloan, Palu
b. Pelabuhan pelayanan kapal Feri Taipa Palu-Balikpapan
c. Pelabuhan interinsuler di masing-masing Kabupaten
Transportasi Udara
a. Bandara udara mutiara Palu yang dapat didarati pesawat jenis boeing 737 ER900 dan NG800
b. Bandara udara Syukuran Aminuddin Amir di Banggai, Lalos di Toli-toli, Kasiguncu di Poso dan Pogugol di Buol yang didarati pesawat jenis Boeing 737-300 dan cassa
Transportasi darat
Dapat menghubungkan daerah Sulawesi Tengah dengan daerah lainnya di Pulau Sulawesi dan antar Kabupaten/Kota se-Sulawesi Tengah dengan panjang jalan kurang lebig 10.576,50 Km.

7. Prasarana penunjang:
Kelistrikan:
Pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) 43 Unit dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 3 unit dengan kapasitas terpasang sebesar 101,805 MW, dapat dijangkau hampir 73% jumlah desa di Sulawesi Tengah.
Air Bersih:
Air bersih melalui PDAM tersedia di 10 Kabupaten dan 1 Kota
Telekomunikasi:
Semua Ibukota KAbupaten telah dihubungkan dengan sarana telephone termasuk beberapa kecamatan di luar ibukota Kabupaten tersedia sarana telephone seluler di Kota Palu, Poso, Luwuk, parigi moutong, Tojo Unauna dan Tolitoli

8. Fasilitas Penunjang
- Perbankan
- Bank di Propinsi Sulawesi tengah meliputi: Bank mandiri, Bank BNI, BRI, BTN, Bank Sulteng, Bank Danamon, BCA, Panin Bank, BII, BPR, Bank Muamalat, dan Bank Syariah Mandiri
- Asuransi lembaga keuangan lainnya
a. Permodalan nasional Madani (PNM), Life
b. Asuransi Manulife
c. Bumiputera 1912
d. Jasa rahardja
e. Bumi Asih Jaya
f. Ekalife
g. Jasindo
- Hotel
Terdapat hotel-hotel pada seluruh kabupaten/kota di Propinsi Sulawesi Tengah
- Rumah Sakit
Terdapat Rumah Sakit pemerintah, swasta dan puskesmas di semua ibukota kabupaten/kota di Sulawesi Tangah

Rekomendasi Insentif yang diberikan Pemerintah Daerah Kepada Investor:
1. Jaminan Keamanan dan kepastian hukum perlindungan pemerintah daerah dan pusat.
2. Lokasi Usaha diupayakan disiapkan oleh pemerintah daerah dengan harga tanah murah.
3. Tidak dipungut biaya perizinan.
4. Pajak usaha dipungut setelah perusahaan berproduksi komersial.
5. Jaminan Hak Guna Usaha 30 tahun diupayakan menjadi 50 tahun oleh pemerintah daerah.
6. pemerintah daerah berupaya menyiapkan tenaga kerja lokal yang produktif dan murah.
7. Mengupayakan bebas biaya impor mesin-mesian guna keperluan pabrik.
8. Pemerintah daerah berupaya menyiapkan jaminan adanya fasilitas listrik dan fasilitas lainnya ke lokasi proyek.

  • Industri Pengolahan Ikan segar, ikan beku  dan ikan kaleng (ada visibility study).
  • STUDI KELAYAKAN INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN KALENG

1. Potensi Sumber Daya Ikan
a. Potensi sumber daya ikan yang tersedia di perairan Sulawesi Tengah diperkirakan ± 330.000 ton/tahun
b. Potensi yang di kelola secara lestari diperkirakan ± 214.108 ton/tahun yang terdiri dari:
- Selat Makassar/Laut Sulawesi ± 68.000 ton/tahun
- Teluk Tomini ± 77.652 ton/tahun
- Teluk Tolo ± 68.456 ton/tahun
c. Tingkat pemanfaatan potensi perairan dan kelautan Sulawesi tengah baru mencapai 87.565 ton atau 40,90% dari total potensi yang tersedia

2. Bahan Baku
Bahan baku diperoleh dari himpunan nelayan atau koperasi nelayan

3. Sarana penangkapan ikan
Sarana penangkapan ikan yang tersedia di masyarakat berupa:
√ Perahu tanpa motor: 19.648 Unit
√ Motor tempel: 3.665 Unit
√ Kapal motor: 239 Unit
Prasarana perikanan:
√ Tempat Pendaratan Ikan di Paranggi Kabupaten Parigi Moutong
√ Tempat pendaratan ikan di Pagimana Kabupaten Banggai
√ Tempat pendaratan ikan di Kolonedale Kabupaten Morowali

4. Lokasi yang disarankan:
Pertimbangan Utama penentuan lokasi adalah:
• Sentra produksi bahan baku
• Adanya dukungan antar pulau
• Lokasi pabrik yang direncanakan untuk keberhasilan proyek adalah:
√ Zona I: Selat Makassar/Laut Sulawesi di Kabupaten Toli-toli
√ Zona II: Teluk Tomini di Kabupaten Parigi Moutong
√ Zona III: Teluk Tolo di Kabupaten Banggai
Penetapan Lokasi ini merupakan daerah yang memiliki dan tersedianya infrastruktur yang dibutuhkan untuk pembangunan usaha, memudahkan arus bahan baku dan arus keluar propinsi.

5. Investasi
Profitabilitas
> IRR = 33,85%
> NPV 16% = 3.097.031.809,27
> NET B/C = 1,22%
> Pay Back Period = 2,50 tahun
> Jumlah Pekerja = 200 orang
Komponen Investasi
Komponen Aktiva:
• Tanah Rp.50.000.000,-
• Bangunan:
  1. Bangunan Produksi Rp.90.000.000,-
  2. Bangunan Gedung Rp. 112.500.000,-
  3. Bangunan Kantor Rp.30.000.000,-
• Mesin dan Peralatan Rp.500.000.000,-
• Kendaraan Rp.300.000.000,-
• Perizinan Rp.3.000.000,-
Jumlah Komponen Aktiva Rp.1.085.500.000,-
Modal kerja:
- Bahan baku Rp.4.892.762.500,-
- Tenaga kerja langsung Rp.270.000.000,-
- BOP Rp.197.700.000,-
Jumlah modal kerja Rp.5.381.462.500,-
Total investasi Rp.6.466.962.500,- 

6. Infrastruktur
Transportasi Laut:
a. Pelabuhan Pantoloan, Palu
b. Pelabuhan pelayanan kapal Feri Taipa Palu-Balikpapan
c. Pelabuhan interinsuler di masing-masing Kabupaten
Transportasi Udara
a. Bandara udara mutiara Palu yang dapat didarati pesawat jenis boeing 737 ER900 dan NG800
b. Bandara udara Syukuran Aminuddin Amir di Banggai, Lalos di Toli-toli, Kasiguncu di Poso dan Pogugol di Buol yang didarati pesawat jenis Boeing 737-300 dan cassa
Transportasi darat
Dapat menghubungkan daerah Sulawesi Tengah dengan daerah lainnya di Pulau Sulawesi dan antar Kabupaten/Kota se-Sulawesi Tengah dengan panjang jalan kurang lebig 10.576,50 Km.

7. Prasarana penunjang:
Kelistrikan:
Pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) 43 Unit dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 3 unit dengan kapasitas terpasang sebesar 101,805 MW, dapat dijangkau hampir 73% jumlah desa di Sulawesi Tengah.
Air Bersih:
Air bersih melalui PDAM tersedia di 10 Kabupaten dan 1 Kota
Telekomunikasi:
Semua Ibukota KAbupaten telah dihubungkan dengan sarana telephone termasuk beberapa kecamatan di luar ibukota Kabupaten tersedia sarana telephone seluler di Kota Palu, Poso, Luwuk, parigi moutong, Tojo Unauna dan Tolitoli

8. Fasilitas Penunjang
- Perbankan
- Bank di Propinsi Sulawesi tengah meliputi: Bank mandiri, Bank BNI, BRI, BTN, Bank Sulteng, Bank Danamon, BCA, Panin Bank, BII, BPR, Bank Muamalat, dan Bank Syariah Mandiri
- Asuransi lembaga keuangan lainnya
a. Permodalan nasional Madani (PNM), Life
b. Asuransi Manulife
c. Bumiputera 1912
d. Jasa rahardja
e. Bumi Asih Jaya
f. Ekalife
g. Jasindo
- Hotel
Terdapat hotel-hotel pada seluruh kabupaten/kota di Propinsi Sulawesi Tengah
- Rumah Sakit
Terdapat Rumah Sakit pemerintah, swasta dan puskesmas di semua ibukota kabupaten/kota di Sulawesi Tangah

Rekomendasi Insentif yang diberikan Pemerintah Daerah Kepada Investor:
1. Jaminan Keamanan dan kepastian hukum perlindungan pemerintah daerah dan pusat.
2. Lokasi Usaha diupayakan disiapkan oleh pemerintah daerah dengan harga tanah murah.
3. Tidak dipungut biaya perizinan.
4. Pajak usaha dipungut setelah perusahaan berproduksi komersial.
5. Jaminan Hak Guna Usaha 30 tahun diupayakan menjadi 50 tahun oleh pemerintah daerah.
6. pemerintah daerah berupaya menyiapkan tenaga kerja lokal yang produktif dan murah.
7. Mengupayakan bebas biaya impor mesin-mesian guna keperluan pabrik.
8. Pemerintah daerah berupaya menyiapkan jaminan adanya fasilitas listrik dan fasilitas lainnya ke lokasi proyek.

      Industri Pengolahan tepung Ikan (ada visibility study)

1. Aspek produksi
a. Produksi yang dihasilkan: Tepung Ikan
b. Kapasitas Produksi: 1.600 ton/tahun
c. Rencana pemasaran: Pasr lokal 20%, Regional 80%
d. Pemasaran produk: Harga Rp.5.000/kg
e. Supply bahan baku: diperoleh dari himpunan nelayan atau koperasi nelayan
Potensi Perikanan Laut
Potensi yang dikelola secara lestari diperkirakan krng lbih 214.108 ton/tahun yang terdiri dari:
- Selat Makssar/laut Sulawesi krang lebih 68.000 ton/tahun
- Teluk Tomini krang lebih 77.652 ton/tahun- Teluk Tolo krang lbih 68.456 ton/tahun
Potensi Perikanan Darat
Potensi sumber daya perikanan air tawar maupun payau di Sulawesi tengah cukup besar. Luas rawa dan sungai  mencapai 1.639.605 Ha. Sedangkan luas danau secara keseluruhan mencapai 37.028 Ha yang sangat cocok untuk dikembangkan budidaya jaring apung. Potensi pertambakan sebesar 42.095,20 Ha dengan tingkat pemanfaatan mencapai 20,48% (tahun. 2003)
f. Tenaga kerja yang dibutuhkan
° Tenaga kerja tetap: 5 orang
° Tenaga kerja tidak tetap: 42 orang
g. Upah tenaga kerja: Rp.312.000.000/tahun sengan perincian;
° Tenaga kerja tetap: Rp.66.000.000,-/tahun
° Tenaga kerja tidak tetap: Rp.246.000.000,-/tahun
h. Prosedur perizinan: sesuai peraturan perundang-undangan
i. Proses pengurusan izin: 10 hari

2. Aspek lingkungan
Lokasi yang disarankan:
Pertimbangan Utama penentuan lokasi adalah:
- Sentra Produksi bahan baku
- Adanya dukungan antar pulau
- Lokasi pabrik yang direncanakan untuk keberhasilan proyek adalah:
- Zona I: Selat Makasaar/Laut Sulawesi di Kab. Tolitoli
- Zona II: teluk Tomini Kabupaten parigi Moutong
Zona III: Teluk Tolo di Kabupaten banggai
Penetapan Lokasi ini merupakan daerah yang memiliki dan tersedianya infrastruktur yang dibutuhkan untuk pembangunan usaha. Dan memudahkan arus bahan baku dan arus keluar propinsi.
Lokasi pabrik yang disarankan adalah di Kabupaten Parigi Moutong, tepatnya di Desa Paranggi, Kecamatan Ampibabo dengan pertimbangan:
- Produksi ikan tangkapan mencapai 30 ton/hari
- Produksi ikan ternak mencapai 5 ton/hari
- Sisa ikan olahan dari salah satu industri yang memproduksi ikan papan rata-rata 2 ton/hari

3. Aspek Keuangan
3.1. Dana yang diperlukan (dana sendiri dan kredit)
a. Investasi: Rp.1.578.000.000,-
b. Modal kerja: Rp.6.028.000.000,-
c. Total investasi: Rp.7.606.122.000,-
3.2. Sumber dana kredit/dana sendiri
a. Investasi 60,9% Kredit Bank dan Modal sendiri 39,02%
b. Modal kerja 43,14% kredit bank dan 56,86% modal sendiri
3.3. Potensi plafon kredit
a. Kredit investasi: Rp.500.000.000,-
b. Kredit modal kerja: Rp.1.000.000.000,-
c. Total pinjaman: Rp.1.500.000.000,-
3.4. Jangka waktu kredit
a. Kredit investasi 5 tahun, kredit modal kerja 1 tahun
b. Tenggang waktu 2 tahun
3.5. Suku bunga 12,5% per tahun
3.6. Periode pembayaran kredit angsuran pokok dan bunga di bayar per bulan

4. Kriteria kelayakan usaha
- IRR= 16,14%
- NPV 12,5% = Rp.29.749.486,-
- Net B/C = 1,001
- Pay Back Period = 3 tahun 7 bulan Tahun

5. Proyeksi rugi/laba sesudah pajak 16%
a. Laba tahun pertama (1): Rp.569.878.000,-
b. Laba tahun terakhir (5): Rp.4.429.586.300,-

6. Infrastruktur
Transportasi Laut:
a. Pelabuhan Pantoloan, Palu
b. Pelabuhan pelayanan kapal Feri Taipa Palu-Balikpapan
c. Pelabuhan interinsuler di masing-masing Kabupaten
Transportasi Udara
a. Bandara udara mutiara Palu yang dapat didarati pesawat jenis boeing 737 ER900 dan NG800
b. Bandara udara Syukuran Aminuddin Amir di Banggai, Lalos di Toli-toli, Kasiguncu di Poso dan Pogugol di Buol yang didarati pesawat jenis Boeing 737-300 dan cassa
Transportasi darat
Dapat menghubungkan daerah Sulawesi Tengah dengan daerah lainnya di Pulau Sulawesi dan antar Kabupaten/Kota se-Sulawesi Tengah dengan panjang jalan kurang lebig 10.576,50 Km.

7. Prasarana penunjang:
Kelistrikan:
Pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) 43 Unit dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 3 unit dengan kapasitas terpasang sebesar 101,805 MW, dapat dijangkau hampir 73% jumlah desa di Sulawesi Tengah.
Air Bersih:
Air bersih melalui PDAM tersedia di 10 Kabupaten dan 1 Kota
Telekomunikasi:
Semua Ibukota KAbupaten telah dihubungkan dengan sarana telephone termasuk beberapa kecamatan di luar ibukota Kabupaten tersedia sarana telephone seluler di Kota Palu, Poso, Luwuk, parigi moutong, Tojo Unauna dan Tolitoli

8. Fasilitas Penunjang
- Perbankan
- Bank di Propinsi Sulawesi tengah meliputi: Bank mandiri, Bank BNI, BRI, BTN, Bank Sulteng, Bank Danamon, BCA, Panin Bank, BII, BPR, Bank Muamalat, dan Bank Syariah Mandiri
- Asuransi lembaga keuangan lainnya
a. Permodalan nasional Madani (PNM), Life
b. Asuransi Manulife
c. Bumiputera 1912
d. Jasa rahardja
e. Bumi Asih Jaya
f. Ekalife
g. Jasindo
- Hotel
Terdapat hotel-hotel pada seluruh kabupaten/kota di Propinsi Sulawesi Tengah
- Rumah Sakit
Terdapat Rumah Sakit pemerintah, swasta dan puskesmas di semua ibukota kabupaten/kota di Sulawesi Tangah

Rekomendasi Insentif yang diberikan Pemerintah Daerah Kepada Investor:
1. Jaminan Keamanan dan kepastian hukum perlindungan pemerintah daerah dan pusat.
2. Lokasi Usaha diupayakan disiapkan oleh pemerintah daerah dengan harga tanah murah.
3. Tidak dipungut biaya perizinan.
4. Pajak usaha dipungut setelah perusahaan berproduksi komersial.
5. Jaminan Hak Guna Usaha 30 tahun diupayakan menjadi 50 tahun oleh pemerintah daerah.
6. pemerintah daerah berupaya menyiapkan tenaga kerja lokal yang produktif dan murah.
7. Mengupayakan bebas biaya impor mesin-mesian guna keperluan pabrik.
8. Pemerintah daerah berupaya menyiapkan jaminan adanya fasilitas listrik dan fasilitas lainnya ke lokasi proyek.

   Industri Arang Briket (ada visibility study)

1. Potensi Bahan Baku
Luas areal tanaman kelapa pada tahun 2003 mencapai 176.883 Ha, dengan total produksi sebanyak 200.686,7 ton, yang sebagian besar (95%) merupakan perkebunan kelapa rakyat. Selain diambil daging buahnya untuk dijadikan kopra, minyak dan santan, tempurung kelapa mencapai 12% dari bobot buah kelapa. Maka untuk produksi buah kelapa 200.686,7 ton akan menghasilkan sekitar 24.082,4 ton tempurung. Olehnya pemanfaatan tempurung kelapa untuk dijadikan arang briket mempunyai prospek ke depan yang cerah.

2. Peluang pasar
Permintaan arang briket secara total pada tahun 2005 adalah 200 ton per bulan dengan rincian sebagai berikut:
Permintaan dalam negeri adalah 40 ton per bulan dengan daerah tujuan adalah Surabaya dan Jakarta. Permintaan luar negeri 160 ton per bulan dengan tujuan Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Norwegia, Inggris, Perancis, Jerman, RRC, Emirat Arab dan Srilanka.
Harga arang briket dalam negeri berkisar antara Rp.2.000,- s/d Rp.2.500,- per kg. Sedangkan harga ekspor berkisar antara Rp.5.750,- s/d Rp.7.500 per kg dengan kurs 1US$ = Rp.9.000,-

3. Proses produksi
Dengan periode produksi 6 hari selama 52 minggu dalam setahun, diproduksi 374.400 kg arang briket per tahun. Pada kondisi tersebut usaha menjadi kurang layak apabila tingkat produksi berada di bawah 153.000 kg per tahun (<573 kg/hari) dengan parameter teknis dan biaya adalah tetap.

4. Lokasi yang disarankan
Lokasi usaha industri arang briket adalah di desa Wani kec. Tawaeli kab. Donggala. Dengan pertimbangan:
Lokasi berjarak sekitar 28 km dari kota Palu
Lokasi industri membutuhkan lahan yang relatif luas untuk gudang dan bahan baku maupun untuk produk serta berlokasi jauh dari perkampungan penduduk untuk menghindari polusi asap yang ditimbulkan selama proses pengarangan.
Lokasi ini berdekatan dengan sumber bahan baku yaitu tempurung kelapa
Transportasi dari dan menuju lokasi dapat ditempuh dengan jalan darat/laut

5. Investasi
Dengan investasi Rp.1.041.100.000,00 yang bersumber dari dana pinjaman kredit sebesar Rp.750.000.000,- (68,18%) dan sisanya adalah dana modal sendiri sebesar Rp.350.000.000,- (31,82%), dapat menghasilkan laba bersih sebesar Rp.1.734.240,- hal ini terlihat setelah 4 tahun proyek dijalankan menguntungkan.
Profitabilitas
IRR = 31,87%
NPV + Rp.2.703.375,-
BEP + 45,54%
Pay Back Period = 1,3 tahun
Jumlah Pekerja = 25 Orang

6. Analisa teknis investasi

7. Infrastruktur
Transportasi Laut:
a. Pelabuhan Pantoloan, Palu
b. Pelabuhan pelayanan kapal Feri Taipa Palu-Balikpapan
c. Pelabuhan interinsuler di masing-masing Kabupaten
Transportasi Udara
a. Bandara udara mutiara Palu yang dapat didarati pesawat jenis boeing 737 ER900 dan NG800
b. Bandara udara Syukuran Aminuddin Amir di Banggai, Lalos di Toli-toli, Kasiguncu di Poso dan Pogugol di Buol yang didarati pesawat jenis Boeing 737-300 dan cassa
Transportasi darat
Dapat menghubungkan daerah Sulawesi Tengah dengan daerah lainnya di Pulau Sulawesi dan antar Kabupaten/Kota se-Sulawesi Tengah dengan panjang jalan kurang lebig 10.576,50 Km.

8. Prasarana penunjang:
Kelistrikan:
Pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) 43 Unit dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 3 unit dengan kapasitas terpasang sebesar 101,805 MW, dapat dijangkau hampir 73% jumlah desa di Sulawesi Tengah.
Air Bersih:
Air bersih melalui PDAM tersedia di 10 Kabupaten dan 1 Kota
Telekomunikasi:
Semua Ibukota KAbupaten telah dihubungkan dengan sarana telephone termasuk beberapa kecamatan di luar ibukota Kabupaten tersedia sarana telephone seluler di Kota Palu, Poso, Luwuk, parigi moutong, Tojo Unauna dan Tolitoli

9. Fasilitas Penunjang
- Perbankan
- Bank di Propinsi Sulawesi tengah meliputi: Bank mandiri, Bank BNI, BRI, BTN, Bank Sulteng, Bank Danamon, BCA, Panin Bank, BII, BPR, Bank Muamalat, dan Bank Syariah Mandiri
- Asuransi lembaga keuangan lainnya
a. Permodalan nasional Madani (PNM), Life
b. Asuransi Manulife
c. Bumiputera 1912
d. Jasa rahardja
e. Bumi Asih Jaya
f. Ekalife
g. Jasindo
- Hotel
Terdapat hotel-hotel pada seluruh kabupaten/kota di Propinsi Sulawesi Tengah
- Rumah Sakit
Terdapat Rumah Sakit pemerintah, swasta dan puskesmas di semua ibukota kabupaten/kota di Sulawesi Tangah

Rekomendasi Insentif yang diberikan Pemerintah Daerah Kepada Investor:
1. Jaminan Keamanan dan kepastian hukum perlindungan pemerintah daerah dan pusat.
2. Lokasi Usaha diupayakan disiapkan oleh pemerintah daerah dengan harga tanah murah.
3. Tidak dipungut biaya perizinan.
4. Pajak usaha dipungut setelah perusahaan berproduksi komersial.
5. Jaminan Hak Guna Usaha 30 tahun diupayakan menjadi 50 tahun oleh pemerintah daerah.
6. pemerintah daerah berupaya menyiapkan tenaga kerja lokal yang produktif dan murah.
7. Mengupayakan bebas biaya impor mesin-mesian guna keperluan pabrik.
8. Pemerintah daerah berupaya menyiapkan jaminan adanya fasilitas listrik dan fasilitas lainnya ke lokasi proyek.

      Industri Pengolahan Rumput laut

1. Aspek Produksi
a. Produk yang dihasilkan: Rumput Laut
b. Kapasitas produksi: 327,6 ton/hari
c. Rencana Pemasaran: Pasar regional nasional dan pasar internasional
d. Pemasaran produk: Dijual dengan harga Rp.3.250,-/Kg
e. Supply bahan baku: Petani rumput laut dengan produksi 2.295,50 ton/tahun
f. Tekhnologi yang digunakan: Sedang dan Intensif
g. Sumber energi yang digunakan: Energi listrik PLTD

2. Aspek lingkungan
a. Lokasi usaha yang ditawarkan: Kab. Morowali, Kab. Banggai Kepulauan, Kab. Parigi Moutong, dan Kab. Donggala
b. Kondisi lingkungan: Masyarakat yang kondusif
c. Analisis dampak lingkungan: Tidak berdampak negatif pada masyarakat karena tidak menggunakan bahan kimia
d. Tenaga kerja yang dibutuhkan
- Tenaga kerja tetap: 35 orang digunakan setiap bulan
- Tenaga kerja tidak tetap: 10 orang digunakan 6 bulan
e. Upah tenaga kerja:
- Tenaga kerja tetap: Rp.650.000,-/bulan
- Tenaga kerja tidak tetap: Rp.350.000,-/bulan
f. Prosedur perizinan: Sesuai peraturan perundang-undangan
g. Proses pengurusan izin 10 hari

3. Aspek keuangan
3.1. Dana yang diperlukan (dana sendiri dan kredit)
a. Investasi: Rp.945.500.000,-
b. Modal kerja: Rp.674.078.200,-
c. Total Investasi: Rp.1.654.598.500,-
3.2. Sumber dana kredit/dana sendiri
a. Investasi 53% kredit bank dan modal sendiri 47%
b. Modal kerja 15% kredit bank dan 85% modal sendiri
3.3. Potensi platform kredit
a. Kredit investasi: Rp.500.000.000,-
b. Kredit modal kerja: Rp.100.000.000,-
c. Total pinjaman: Rp.600.000.000,-
3.4. Jangka waktu kredit
a. Kredit investasi 5 tahun, kredit modal kerja 1 tahun
b. Tampak langsung waktu
3.5. Suku bunga 16% per tahun menurun
3.6. Periode pembayaran kredit angsuran pokok dan bunga di bayar perbulan

4. Kriteria kelayakan usaha
a. Pay back period: 1,98 tahun (1 tahun 98 hari) tahun
b. Internal rate of return (IRR): 47.3%
c. NET B/C: 1,220%
d. NPV 16%: Rp.1.388.927.839,25

5. Proyeksi Rugi/Laba sesudah pajak 15%
a. Laba tahun pertama (1): Rp.7.372.611.000,-
b. Laba tahun terakhir (5): Rp.18.802.986.000,-

6. Infrastruktur
Transportasi Laut:
a. Pelabuhan Pantoloan, Palu
b. Pelabuhan pelayanan kapal Feri Taipa Palu-Balikpapan
c. Pelabuhan interinsuler di masing-masing Kabupaten
Transportasi Udara
a. Bandara udara mutiara Palu yang dapat didarati pesawat jenis boeing 737 ER900 dan NG800
b. Bandara udara Syukuran Aminuddin Amir di Banggai, Lalos di Toli-toli, Kasiguncu di Poso dan Pogugol di Buol yang didarati pesawat jenis Boeing 737-300 dan cassa
Transportasi darat
Dapat menghubungkan daerah Sulawesi Tengah dengan daerah lainnya di Pulau Sulawesi dan antar Kabupaten/Kota se-Sulawesi Tengah dengan panjang jalan kurang lebig 10.576,50 Km.

7. Prasarana penunjang:
Kelistrikan:
Pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) 43 Unit dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 3 unit dengan kapasitas terpasang sebesar 101,805 MW, dapat dijangkau hampir 73% jumlah desa di Sulawesi Tengah.
Air Bersih:
Air bersih melalui PDAM tersedia di 10 Kabupaten dan 1 Kota
Telekomunikasi:
Semua Ibukota KAbupaten telah dihubungkan dengan sarana telephone termasuk beberapa kecamatan di luar ibukota Kabupaten tersedia sarana telephone seluler di Kota Palu, Poso, Luwuk, parigi moutong, Tojo Unauna dan Tolitoli

8. Fasilitas Penunjang
- Perbankan
- Bank di Propinsi Sulawesi tengah meliputi: Bank mandiri, Bank BNI, BRI, BTN, Bank Sulteng, Bank Danamon, BCA, Panin Bank, BII, BPR, Bank Muamalat, dan Bank Syariah Mandiri
- Asuransi lembaga keuangan lainnya
a. Permodalan nasional Madani (PNM), Life
b. Asuransi Manulife
c. Bumiputera 1912
d. Jasa rahardja
e. Bumi Asih Jaya
f. Ekalife
g. Jasindo
- Hotel
Terdapat hotel-hotel pada seluruh kabupaten/kota di Propinsi Sulawesi Tengah
- Rumah Sakit
Terdapat Rumah Sakit pemerintah, swasta dan puskesmas di semua ibukota kabupaten/kota di Sulawesi Tangah

Rekomendasi Insentif yang diberikan Pemerintah Daerah Kepada Investor:
1. Jaminan Keamanan dan kepastian hukum perlindungan pemerintah daerah dan pusat.
2. Lokasi Usaha diupayakan disiapkan oleh pemerintah daerah dengan harga tanah murah.
3. Tidak dipungut biaya perizinan.
4. Pajak usaha dipungut setelah perusahaan berproduksi komersial.
5. Jaminan Hak Guna Usaha 30 tahun diupayakan menjadi 50 tahun oleh pemerintah daerah.
6. pemerintah daerah berupaya menyiapkan tenaga kerja lokal yang produktif dan murah.
7. Mengupayakan bebas biaya impor mesin-mesian guna keperluan pabrik.
8. Pemerintah daerah berupaya menyiapkan jaminan adanya fasilitas listrik dan fasilitas lainnya ke lokasi proyek.

    Industri Pengolahan Nata de Coco

1. Aspek Produksi
a. Produk yang dihasilkan: Nata De Coco
b. Kapasitas produksi: 1.520 kg dan 500 karton/hari
c. Rencana Pemasaran: Pasar lokal 30% dan Pasar Luar Daerah 70%
d. Pemasaran produk: Lokal dijual harga Rp.12.500/karton dan luar daerah Rp.15.500/karton
e. Supply bahan baku: perkebunan kelapa Sulawesi Tengah 167.215 Ha, Jumlah produksi 180.043,38 ton/tahun
f. Tekhnologi yang digunakan: Sedang dan Intensif
g. Sumber energi yang digunakan: Energi listrik PLTD

2. Aspek lingkungan
a. Lokasi usaha yang ditawarkan: Kota Palu dan Kabupaten Parigi Moutong
b. Kondisi lingkungan: Masyarakat yang kondusif
c. Analisis dampak lingkungan: Tidak berdampak negatif pada masyarakat karena tidak menggunakan bahan kimia
d. Tenaga kerja yang dibutuhkan
- Tenaga kerja tetap: 10 orang digunakan setiap bulan
- Tenaga kerja tidak tetap: 6 orang digunakan 6 bulan
e. Upah tenaga kerja:
- Tenaga kerja tetap: Rp.600.000,-/bulan
- Tenaga kerja tidak tetap: Rp.350.000,-/bulan
f. Prosedur perizinan: Sesuai peraturan perundang-undangan
g. Proses pengurusan izin 10 hari

3. Aspek keuangan
3.1. Dana yang diperlukan (dana sendiri dan kredit)
a. Investasi: Rp.505.922.500,-
b. Modal kerja: Rp.1.148.676.000,-
c. Total Investasi: Rp.1.654.598.500,-
3.2. Sumber dana kredit/dana sendiri
a. Investasi 20% kredit bank dan modal sendiri 80%
b. Modal kerja 44% kredit bank dan 56% modal sendiri
3.3. Potensi platform kredit
a. Kredit investasi: Rp.100.000.000,-
b. Kredit modal kerja: Rp.500.000.000,-
c. Total pinjaman: Rp.600.000.000,-
3.4. Jangka waktu kredit
a. Kredit investasi 5 tahun, kredit modal kerja 1 tahun
b. Tampak langsung waktu
3.5. Suku bunga 16% per tahun menurun
3.6. Periode pembayaran kredit angsuran pokok dan bunga di bayar perbulan

4. Kriteria kelayakan usaha
a. Pay back period: 2,16 tahun
b. Internal rate of return (IRR): 42.89%
c. NET B/C: 1,248%
d. NPV 16%: Rp.1.209.133.911,10

5. Proyeksi Rugi/Laba sesudah pajak 15%
a. Laba tahun pertama (1): Rp.103.900.625,-
b. Laba tahun terakhir (5): Rp.854.723.478,-

6. Infrastruktur
Transportasi Laut:
a. Pelabuhan Pantoloan, Palu
b. Pelabuhan pelayanan kapal Feri Taipa Palu-Balikpapan
c. Pelabuhan interinsuler di masing-masing Kabupaten
Transportasi Udara
a. Bandara udara mutiara Palu yang dapat didarati pesawat jenis boeing 737 ER900 dan NG800
b. Bandara udara Syukuran Aminuddin Amir di Banggai, Lalos di Toli-toli, Kasiguncu di Poso dan Pogugol di Buol yang didarati pesawat jenis Boeing 737-300 dan cassa
Transportasi darat
Dapat menghubungkan daerah Sulawesi Tengah dengan daerah lainnya di Pulau Sulawesi dan antar Kabupaten/Kota se-Sulawesi Tengah dengan panjang jalan kurang lebig 10.576,50 Km.

7. Prasarana penunjang:
Kelistrikan:
Pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) 43 Unit dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 3 unit dengan kapasitas terpasang sebesar 101,805 MW, dapat dijangkau hampir 73% jumlah desa di Sulawesi Tengah.
Air Bersih:
Air bersih melalui PDAM tersedia di 10 Kabupaten dan 1 Kota
Telekomunikasi:
Semua Ibukota KAbupaten telah dihubungkan dengan sarana telephone termasuk beberapa kecamatan di luar ibukota Kabupaten tersedia sarana telephone seluler di Kota Palu, Poso, Luwuk, parigi moutong, Tojo Unauna dan Tolitoli

8. Fasilitas Penunjang
- Perbankan
- Bank di Propinsi Sulawesi tengah meliputi: Bank mandiri, Bank BNI, BRI, BTN, Bank Sulteng, Bank Danamon, BCA, Panin Bank, BII, BPR, Bank Muamalat, dan Bank Syariah Mandiri
- Asuransi lembaga keuangan lainnya
a. Permodalan nasional Madani (PNM), Life
b. Asuransi Manulife
c. Bumiputera 1912
d. Jasa rahardja
e. Bumi Asih Jaya
f. Ekalife
g. Jasindo
- Hotel
Terdapat hotel-hotel pada seluruh kabupaten/kota di Propinsi Sulawesi Tengah
- Rumah Sakit
Terdapat Rumah Sakit pemerintah, swasta dan puskesmas di semua ibukota kabupaten/kota di Sulawesi Tangah

Rekomendasi Insentif yang diberikan Pemerintah Daerah Kepada Investor:
1. Jaminan Keamanan dan kepastian hukum perlindungan pemerintah daerah dan pusat.
2. Lokasi Usaha diupayakan disiapkan oleh pemerintah daerah dengan harga tanah murah.
3. Tidak dipungut biaya perizinan.
4. Pajak usaha dipungut setelah perusahaan berproduksi komersial.
5. Jaminan Hak Guna Usaha 30 tahun diupayakan menjadi 50 tahun oleh pemerintah daerah.
6. pemerintah daerah berupaya menyiapkan tenaga kerja lokal yang produktif dan murah.
7. Mengupayakan bebas biaya impor mesin-mesian guna keperluan pabrik.
8. Pemerintah daerah berupaya menyiapkan jaminan adanya fasilitas listrik dan fasilitas lainnya ke lokasi proyek.

Bidang usaha Peternakan

  1. Peternakan dan Penggemukan Sapi potong
  2. Peternakan Domba Ekor Gemuk
  3. Bidang Usaha Perdagangan/ Jasa
  4. Travel dan Akomodasi/Perhotelan
  5. Transportasi
  6. Pergudangan
  7. Mall dan Hypermarket
  8. Telekomunikasi

Bidang Usaha Pertanian dan Perikanan

  1. Budidaya Ikan Kerapu (ada visibility study)
  2. Budidaya Rumput laut (ada visibility study)
  3. Budidaya Pengembangan Tanaman Jarak Pagar
  4. Budidaya Tanaman Bawang
  5. Budidaya Udang
  6. Tuna dan Cakalang
  7. Peternakan dan Penggemukan Sapi Potong (ada visibility study)
  8. Peternakan Domba Ekor Gemuk
  9. Pakan  Ternak dan Pembibitan Unggas

Bidang Usaha Kerajinan

  1. Bidang Usaha Kerajinan Pengembangan Sarung Tenun Donggala
  2. Bidang Usaha Kerajinan Ebony
  3. Bidang Usaha Kerajinan Gerabah

Program Pembangunan

Bidang Ekonomi

1.1. Pertanian
    a). Intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi usaha tani.
    b). Pengembangan sarana produksi pertanian dengan harga terjangkau.
    c). Perwilayahan komoditas unggulan pada sejumlah kawasan tertentu.
    d). Peningkatan kualitas layanan publik dengan penyediaan informasi dan teknologi, permodalan, investasi, dan koperasi.  

1.2. Perikanan
    a). Peningkatan eksplorasi sumber daya kelautan.
    b). Pengembangan teknologi eksplorasi dan pendayagunaan sumber daya kelautan    yang lebih arif dan lestari.
    c). Peningkatan partisipasi publik secara luas dalam upaya pemanfaatan dan pelestarian sumber daya perikanan dan
         kelautan.   

1.3. Pertambangan dan Energi
     a). Peningkatan eksploitasi, pengelolaan dan pemasaran hasil dan modernisasi alat – alat tambang.
     b). Penataan usaha pertambangan rakyat terpadu mencakup pembinaan dan perlindungan pertambangan rakyat terpadu
          melalui pola pembangunan skala kecil.
     c). Peningkatan persediaan energi yang cukup melalui pengembangan dan percepatan pembangunan PLTA Sulewana di
         Poso.   

1.4. Pemanfataan sumber daya mineral, sumber daya hutan serta sumber daya lainnya
     a) Pengembangan geologi dan sumber daya mineral yang mencakup riset geologi terpadu dan pemetaan tata ruang
         sebagai acuan eksplorasi bahan galian.
     b). Pewilayahan dan pemanfaatan ruang untuk setiap komoditi, sektor produksi dan sektor jasa.
     c). Pemanfaatan sumber daya hutan dengan memperhatikan pelestarian lingkungan/kawasan hutan lindung, Taman
        Nasional, dan lain – lain.   

1.5. Perdagangan
     a). Peningkatan aksesbilitas perdagangan lintas daerah dan regional.
     b). Peningkatan iklim usaha dan inventasi yang kondusif melalui deregulasi dan debirokratisasi serta penyiapan kawasan
          investasi.
     c). Peningkatan daya saing komoditi lokal terhadap pasar luar melaui pengurangan biaya transaksi yang didukukng
          kebijakan yang menjamin kelancaran arus barang.
     d). Pengembangan pusat informasi bisnis daerah.   

1.6. Jasa
     a). Peningkatan standar pelayanan.
     b). Merangsang peningkatan minat investor.
     c). Pengembangan kawasan sebagai jendela promosi potensi investasi daerah.
     d). Pengembangan sentra – sentra pelayanan multijasa.   

1.7. Industri
    a). Peningkatan daya saing industri kecil dan menengah.
    b). Pengembangan kawasan – kawasan industri kecil menengah.
    c). Peningkatan kemudahan fasilitas dan minat investasi lokal dan nasional untuk menanamkan modalnya.   

1.8. Pariwisata
   a). Pengembangan dan peningkatan akses kepariwisataan terhadap investor lokal dan nasional
   b). Percepatan pembangunan fasilitas pendukung utama kepariwisatawaan seperti hotel berbintang oleh Pemerintah
        maupun swasta.

1.9. Transportasi. Komunikasi dan Informasi
   a). Peningkatan pembangunan jaringan transportasi, komunikasi dan informasi regional baik darat, laut maupun udara.
   b). Peningkatan pembangunan pelabuhan yang representatif di tiap kabupaten sebagai sentra pemasaran dan
        perdagangan.
   c). Peningkatan pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana jaringan transportasi jalan Negara dan jalan Provinsi yang
        menghubungkan antar kota Propinsi, dan antar kota Kabupaten.
   d). Peningkatan sistem transportasi perkotaan dan pedesaan hinga desa – desa terpencil, guna kelancaran distribusi
        pemasaran hasil produksi pertanian dan pedesaan ke pusat pemasaran sehingga tercipta efisiensi waktu tempuh
        perjalanan.
   e). Perluasan dan pengembangan jaringan telekomunikasi sampai ke pelosok desa.

Bidang Keamanan
   a). Peningkatan saling percaya dan harmoni antar kelompok masyarakat.
   b). Pencegahan dan penanggulangan kriminilitas dan gangguan keamanan.
   c). Pencegahan dan penanggulangan gerakan terorisme.

Bidang Hukum
   a). Peningkatan kualitas produk hukum daerah serta sosialisasi kepada masyarakat baik produk hukum maupun hukum
        nasional.
   b). Peningkatan kesadaran hukum masyarakat melalui pembinaan legal culture (budaya taat hukum).
    c). Peningkatan penegakan supremasi Hukum di semua lintas sektor pembangunan tanpa pandang bulu.

Bidang Pendidikan
   a). Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan dasar dan menengah yang dapat menampung anak usia sekolah.
   b). Perluasan kesempatan bagi anak usia sekolah dasar dan menengah mengikuti pendidikan secara luas dan merata.
   c) Peningkatan jumlah, mutu dan kesejahteraan tenaga pendidik.
    d). Perluasan peluang dan bantuan secara selektif terhadap sumber daya manusia untuk melanjutkan pendidikan S-2 dan
         S-3.
    e). Peningkatan pendidikan pembinaan mental spiritual (imtaq) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara mandiri
        dan melembaga.

Bidang Kesehatan
    a). Penyusunan standar pelayanan minimum kesehatan dengan tetap mempertimbangkan kemampuan ekonomi rakyat
         serta pemerataan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kepuasan masyarakat.
    b). Pembinaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan cara menekan angka kematian bayi dan anak balita
         serta kematian ibu melahirkan, meningkatkan angka usia harapan hidup, menakan angka sakit berdasarkan jenis
         penyakit serta melaksanakan perbaikan gizi melalui pemantapan sistem kewaspadaan gizi.
    c). Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan melalui peningkatan status Rumah Sakit Umum, mengoptimalkan peran
         Puskesmas, Polindes (Pondok Bersalin Desa) dan Posyandu, sebagai lembaga pelayanan dan pembinaan kesehatan
         masyarakat.

Bidang Pembinaan Generasi Muda
Mewujudkan kemandirian masyarakat/generasi muda melaui pendekatan Tribina. yaitu:
   a). Bina Manusia, yaitu kegiatan – kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik fisik
        maupun non fisik menjadi manusia yang mampu menentukan masa depannya sendiri, berdisiplin tinggi dan bermoral
        dalam kedudukan yang setara antara laki – laki dan perempuan.
   b). Bina Usaha, diarahkan untuk menumbuhkembangkan berbagai usaha masyarakat yang berpusat pada nilai – nilai dalam
        masyarakat serta menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.
   c). Bina Lingkungan, yaitu kegiatan – kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan manfaat yang sebesar – besarnya dari
        sumber daya lingkungan/alam yang tersedia dan memberikan jaminan kelestarian dan keharmonisan terhadap
        lingkungan/alam sekitarnya.

Bidang Pemberdayaan Perempuan
    a). Peningkatan – peningkatan peran perempuan dalam pembangunan.
    b). Peningkatan kesetaraan dan keadilan gender dalam program pembangunan dan kebijakan politik.

Bidang Politik, Hak Asasi Manusia, Pemberantasan KKN
8.1. Stabilitas Politik
   a). Peningkatan stabilitas politik dengan mengembangkan budaya politik yang sehat, demokratis, dan beretika.
   b). Peningkatan kesadaran dalam berpartisipasi di bidang politik melaui pendidikan dan pelatihan individu, organisasi
        maupun kelompok masyarakat.
   c). Pengembangan keseimbangan di dalam proses komunikasi politik antar pemerintah dengan masyarakat dan sebaliknya.
8.2. Penegakan HAM
   a). Penegakan dan pengakuan Hak – hak Azasi Manusia (HAM).
   b). Peningkatan perlindungan Hak – hak Azasi Manusia (HAM) khususnya integritasi aparat penegak hukum.
   c). Penerapan prinsip persamaan hak dan anti diskriminasi dalam setiap pelayanan masyarakat.
8.3. Pemberantasan KKN
   a). Peningkatan pemberantasan secara nyata praktek korupsi di birokrasi dan dimulai dari tatanan (jajaran) pejabat yang
        paling atas.
   b). Pemberantasan korupsi sesuai ketentuan hukum secara nyata praktek korupsi di birokrasi dan dimulai dari tatanan
        (jajaran) pejabat yang paling atas sering dengan upaya menciptakan sistem pemerintahan dan birokrasi yang bersih,
        akuntabel, transparan, efisien, dan berwibawa.
8.4. Pemberdayaan Tri Kerukunan Umat Beragama
   a). Peningkatan kerukunan antar umat beragama, yakni rukun intern, rukun antar beragama yang saling menghargai dan
        rukun dengan pemerintah.
   b). Pertemuan rutin setiap triwulan dan atau setiap saat dalam hal penanganan masalah – masalah yang timbul di
        masyarakat yang bermuara pada perpecahan akibat pertikaian antar suku/etnis, ras, agama, maupun antar golongan.

Bidang Pemerintahan dan Aparatur
    a). Pelaksanaan pemerintahan yang bersih (clean government), pemerintahan yang baik (good governance) dan
         pemerintahan yang kuat (strong government) pada semua tingkatan pemerintahan.
    b). Pengembangan Reinventing Government dimana aparat berfungsi sebagai pelayan masyarakat.
    c). Peningkatan kinerja dan produktivitas pegawai pada setiap badan, Dinas dan Instansi untuk menangani permasalahan
        di daerah secara terpadu dalam bentuk pelayanan prima kepada masyarakat yang berorientasi pad kepuasan
        masyarakat.
    d). Pendayagunaan aparatur pemerintah berdasarkan kompentensi dalam rangka pembinaan profesionalisme pegawai.
    e). Pembinaan karir pegawai negeri sipil yang mencakup eselonisasi, golongan, kepangkatan, dan promosi jabatan.
     f). Peningkatan kesejahteraan PNS dan fasilitas pendukung tugas – tugas pemerintahan.

Perdagangan dan Industri

INDUSTRI

1.   Sumbangan pada PDRB sebesar 8,36 % pada tahun 2003 (Urutan ke 4 terbesar) Laju pertumbuhan 3,32 %
2.   Unit usaha
     Tahun 2000 = 10.079 unit
     Tahun 2001 = 10.093 unit
     Tahun 2002 = 10.405 unit
     Tahun 2003 = 10.561 unit atau naik rata-rata 1,60 % pertahun
3.  Penyerapan Tenaga Kerja
     Tahun 2000 = 47.004 orang
     Tahun 2001 = 47.593 orang
     Tahun 2002 = 48.592 orang
     Tahun 2003 = 49.199 orang atau naik rata-rata sebesar 1,53 % pertahun
4.  Investasi
    Tahun 2000 = Rp. 205.745.343.000,-
    Tahun 2001 = Rp. 225.173.039.000,-
    Tahun 2002 = Rp. 237.178.403.000,-
    Tahun 2003 = Rp. 244.293.755.000,- atau naik rata-rata sebesar 5,89 % pertahun.
5. Nilai Produksi
    Tahun 2000 = Rp. 315.312.426.000,
    Tahun 2001 = RP. 375.212.674.000,
    Tahun 2002 = Rp. 390.439.025.000,
    Tahun 2003 = Rp. 406.056.586.000, naik rata-rata sebesar 8,79 % pertahun
6. Ekspor Hasil Indutri
    Tahun 2000 = $ 17A20.811,160
    Tahun 2001 = $ 15.886.359,569
    Tahun 2002 = $ 14L199.259,018
    Periode Januari - Nopember Thn 2003 $ 24.185.580,367 Periode yang sama tahun 2002 sebesar $ 10.077.973.048
    atau   naik sebesar 71,19 %. (angka sementara) Jika dibandingkan dengan tahun 2002 naik 70,33 %
    Komoditi ekspor diantaranya bahan bangunan dari kayu, ebony sawn timber, perabot ebony, minyak Kelapa, Tepung
    kelapa dan lain-lain

PERDAGANGAN

1.   Sumbangan pada PDRB sebesar 11,27 % pada tahun 2003 (Urutan Ke 3   terbesar laju Pertumbuhan 5,51 %)
2.   Unit usaha
      Tahun 2000 = 15.137 unit
      Tahun 2001 = 20.745 unit
      Tahun 2002 = 21.050 unit
      Tahun 2003 = 21.471 unit atau naik rata-rata sebesar 1,73 % dari tahun 2002
3.  Penyerapan Tenaga Kerja
     Tahun 2000 = 72.801 orang
     Tahun 2001 = 78.409 orang
     Tahun 2002 = 79.585 orang
     Tahun 2003 = 80.775 orang atau naik rata-rata sebesar 3,52 % pertahun
4.  Ekspor
     Tahun 2000 = $ 65.712.017,760
     Tahun 2001 = $ 80.079.705,490
     Tahun 2002 = $ 148.840.620,487
      Periode Januari - Nopember Thn 2003 = $ 148.480.620,487 dan periode yang sama tahun 2002 hanya $ 931.575.528
      atau naik sebesar 16,10%
      Ekspor hasil Non Industri 85,97 % dan terbesar dari Ekspor komoditi kakao
      Ekspor Hasil Industri 14,03 %
5.   Nilai Impor
      Tahun 2000 = $ 1.530.273,200
      Tahun 2001 = $ 2.372.025,190
      Tahun 2002 = $ 7.889.509,770
      Tahun 2003 = $ 2.410.132,930
      Nilai impor tahun 2002 ke tahun 2003 turun sebesar 69,45 %
      Komoditi impor diantaranya barang modal, barang konsumsi dan bahan baku/penolong
6.   Jumlah Pasar Tahun 2003 (angka sementara)
      Pasar modern/Swalayan = 17 buah
      Pasar Tradisional = 229 buah
7.   Kemeterologian
      Tera Sah
      Tahun 2000 = 929 buah
      Tahun 2001 = 947 buah
      Tahun 2002 = 7.295 buah
      Tahun 2003 = 6.511 buah, Pertumbuhan rata-rata sebesar 91,37 % pertahun
      Tera Ulang Sah
      Tahun 2000 = 13.793 buah
      Tahun 2001 = 10.879 buah
      Tahun 2002 = 10.494 buah
      Tahun 2003 = 16.753 buah, Naik rata-rata sebesar 6,69 % target pertahun
       Jumlah uang Tera Sah dan Tera Ulang Sah
      Tahun 2000 Rp. 3.845.225,-
      Tahun 2001 Rp. 10.233.950,-
      Tahun 2002 Rp. 10.910.825,-
      Tahun 2003 Rp. 12.255.300,-, Naik rata-rata 47,16 % pertahun. Target PAD Tahun 2003 sebesar Rp. 10.000.000,-   
       Atau   pencapaian 122,55 % dari target

Indikator Ekonomi

Indikator Ekonomi Sulawesi Tengah

  Indikator Satuan September 2012 Oktober 2012 November 2012
1 Simpanan Rp. Juta 10,763,754 10,665,938 10,704,654
  - Giro Rp. Juta 2,635,670 2,355,681 2,368,912
  - Tabungan Rp. Juta 5,941,603 6,002,742 6,064,871
  - Simpanan Berjangka Rp. Juta 2,186,481 2,307,515 2,270,871
2 Pinjaman yang diberikan Rp. Juta 17,283,680 17,244,532 17,552,724
  - Modal Kerja Rp. Juta 6,204,241 6,237,468 6,267,534
  - Investasi Rp. Juta 2,214,523 2,250,412 2,300,508
  - Konsumsi Rp. Juta 8,864,916 8,756,652 8,984,682
3 Kredit UMKM Rp. Juta 5,216,248 5,287,611 5,362,224
  - Mikro Rp. Juta 1,210,678 1,218,594 1,136,539
  - Kecil Rp. Juta 2,008,899 2,034,161 2,108,646
  - Menengah Rp. Juta 1,996,671 2,034,856 2,117,039
4 Ekspor Non Migas        
  - Nilai USD ribu 32,115,095 5,646,904* 40,793,980**
  - Volume ton 566,906,606 2,990,089* 1,243,879,911**
5 Impor Non Migas        
  - Nilai USD ribu   *  
  - Volume ton   *  
6 Harga-harga Kota Palu        
  - IHK      
  - Inflasi (mtm) %    
Keterangan :
  • Sumber Data : Bank Indonesia (data Simpanan dan Pinjaman), Badan Pusat Statistik (IHK dan PDRB), Ditjen Bea dan Cukai (Ekspor      dan Impor Nonmigas)
  • * Angka sementara
  • ** Angka sangat sementara

APBD dan PDRB

APBD dan PDRB Sulawesi Tengah

Sulawesi Barat

Peta Sulawesi BaratSulawesi Barat adalah provinsi pemekaran dari provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi yang dibentuk pada 5 Oktober 2004 ini berdasarkan UU No 26 Tahun 2004. Ibukotanya ialah Mamuju. Luas wilayah sekitar 16,796.19 km². dan terdiri dari Suku Mandar (49,15%), Toraja (13,95%), Bugis (10,79%), Jawa (5,38%), Makassar (1,59%) dan lainnya (19,15%). Sulawesi Barat adalah provinsi pengembangan provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi yang dibentuk pada 5 Oktober 2004 ini berdasarkan UU No 26 Tahun 2004. Ibukotanya ialah Mamuju.

Luas wilayah sekitar 16,796.19 km². dan terdiri dari Suku Mandar (49,15%); Toraja (13,95%); Bugis (10,79%); Jawa (5,38%); Makassar (1,59%) dan lainnya (19,15%).

Propinsi Sulbar terdiri atas :
Kabupaten Polewali Mandar, Mamasa, Majene, Mamuju dan Mamuju Utara.

Sulawesi Barat dikenal sebagai lokasi wisata. Selain kakao, daerah ini juga penghasil kopi robusta ataupun kopi arabika, kelapa, dan cengkeh. Di sektor pertambangan terdapat kandungan emas, batubara, dan minyak bumi.

Untuk jangka waktu cukup lama, daerah ini sempat menjadi salah satu daerah yang paling terisolir atau ‘yang terlupakan’ di Sulawesi Selatan. Ada beberapa faktor penyebabnya, antara lain, yang terpenting:

Produk Unggulan

Provinsi Sulawesi Barat memliki sumber daya alam (SDA) baik didarat maupun dilaut seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan dan kelautan pertambangan dan pariwisata. Dari semua potensi yang ada dapat dikatakan sampai saat ini belum tergarap secara optimal karena keterbatasan baik dari sumber daya manusia maupun sarana prasarana yang belum memadai.

Wilayah Povinsi Sulawesi Barat yang berhadapan langsung dengan Selat Makassar, merupakan salah satu jalur lalu lintas pelayaran Nasional dan Internasional memberikan nilai tambah yang sangat menguntungkan bagi pembangunan sosial ekonomi kedepan.

Salah satu pelabuhan antar pulau yang aktif melayani/menghubungkan pulau Kalimantan (Balikpapan) adalah Pelabuhan Fery Simboro Mamuju, Pelabuhan Rakyat Palipi Majene, Pelabuhan Rakyat Mamuju, Pelabuhan Samudra Belang-belang Bakengkeng Mamuju yang telah mulai dikembangkan dan beroperasi untuk kapal penumpang maupun barang seperti pengangkutan minyak CPO dan mangan, serta sejumlah Pelabuhan lain yang dikelola oleh perusahaan swasta nasional di Kabupaten Mamuju Utara.

Di samping itu Bandar Udara Tampapadang berjarak 27 km dari Kota Mamuju, sementara ini mempunyai landasan pacu 2.500 m x 80 m, kondisi ini menggambarkan bahwa bandara tersebut sudah dapat didarati pesawat komersil ukuran Boeing 737 200 yang berpenumpang hingga 150 orang. Untuk sementara ini, bandara Tampa Padang yang merupakan jembatan udara menghubungkan Makassar - Mamuju dan Mamuju - Balikpapan.

Kondisi topografi Provinsi Sulawesi Barat yang terdiri dari laut dalam, daratan rendah, dataran tinggi dan pegunungan dengan tingkat kesuburan yang tinggi, disamping itu letaknya yang sangat strategis pada posisi silang segitiga emas Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah lewat pantai barat dengan jarak 445 km dari Makassar Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, 447 Km dari Palu Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah dan Selat Makassar/ Kalimantan Timur, memberikan potensi perencanaan pembangunan yang harus ditata dengan baik. Sehingga kekayaan yang terkandung di dalam alam Sulawesi Barat dapat memberikan manfaat yang maksimal untuk kesejahteraan masyarakatnya.

1) Potensi Kehutanan
Potensi hutan di Sulawesi Barat seluas kurang lebih 1.131.908 Ha yang terdiri atas kawasan hutan lindung seluas 669.358 Ha, hutan produksi terbatas (HPT) 321.607 Ha, hutan produksi 61.600 Ha, hutan suaka marga satwa (HSAW) 900 Ha dan hutan produksi yang dapat dikonversi 78.443 Ha dengan potensi hasil hutan umumnya meliputi : Kayu Eboni, Meranti, Getah Pinus, Jati, Palapi, Durian, Damar, Rotan, Kemiri, dan Kayu Campuran lainnya. Hasil produksi dari sektor kehutanan selama ini telah memberikan kontribusi dalam penerimaan Pendapatan Asli Daerah setiap tahunnya.

2) Potensi Perkebunan
Perkembangan bidang perkebunan mempunyai peranan yang cukup penting dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat, sebagai indikatornya adalah terciptanya lapangan kerja, sumber pendapatan utama bagi petani, terutama kakao, kelapa sawit, cengkeh dan kopi penghasil devisa dan pemasok bahan baku agro industri, baik dalam maupun luar negeri. Komoditi perkebunan yang menjadi produk unggulan terdiri dari  kelapa sawit, kelapa dalam, kakao, kemiri, seong dan kopi. Realisasi pembangunan bidang perkebunan telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat, keberhasilan yang dicapai tersebut merupakan hasil penerapan/implementasi pola pembangunan yaitu pola UPP dan pola swadaya parsial dengan kegiatan pokok pada intensifikasi, ekstensifikasi, rehabilitasi dan difersifikasi.

Data tahun 2010 menunjukkan bahwa luas areal kakao 132.000 Ha dengan produksi mencapai 96.461 ton. Kelapa sawit dengan luas areal 84.248 Ha dengan produksi 1.182.908 ton TBS, Kelapa dalam dan kelapa hibrida dengan luas areal 68.804 Ha dengan produksi 71.688 ton. Kopra, Kopi Rebustra dan Kopi Arabika luasareal tahun 2007 31.215 Ha dengan produksi 10.753 ton.

3) Potensi Lingkungan Hidup
Potensi lingkungan pada dasarnya diukur dari tingkat pencemaran, kerusakan lingkungan dan punahnya berbagai endemik dan berkurangnya potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan oleh masyarakat. Deskripsi ini dapat dicermati dari ditemukannya berbagai potensi endemik flora dan fauna yang terdapat di wilayah Sulawesi Barat seperti Burung Mandar Dengkur, Burung Maleo, Anoa Pegunungan, Elang Sulawesi, Musang Sulawesi, Anggrek Jamrud, Anggrek Bulan, dan endemik spesifik lokasi lainnya, serta masih terdapat potensi sumber daya alam yang dapat diproduksi dan dapat memberikan akses ekonomi bagi masyarakat.

4) Potensi Kelautan dan Perikanan
Provinsi Sulawesi Barat terletak di jazirah Sulawesi bagian barat, persis berhadapan langsung dengan Selat Makassar, dengan panjang garis pantai kurang lebih 752 Km. Kondisi tersebut sangat menguntungkan bagi perikanan laut (tangkap) dari berbagai jenis ikan nelayan dan ikan domersal serta ikan-ikan karang. Disamping itu, juga sangat potensial untuk budidaya perikanan pantai seperti udang, bandeng, taripang dan berbagai jenis komoditas ikan karal.
Salah satu kendala dalam eksploitasi perikanan adalah penggunaan alat tangkap yang masih sederhana. Potensi perikanan laut di Provinsi Sulawesi Barat dapat dijadikan salah satu alternatif untuk menggali potensi yang ada, melalui budidaya laut, industri tepung ikan dan pengalengan ikan. Potensi perikanan air payau cukup besar daya ketersediaan lahan seluas 13.584,6 Ha tersebar di Kabupaten Polman, Majene, dan Mamuju belum sepenuhnya tergarap. Sementara ini, luas lahan yang sudah berproduksi adalah 10.043,2 Ha dengan produksi untuk tahun 2009 adalah bandeng dan udang, 842 ton.

5) Potensi Pertanian
* Tanaman Pangan dan Hortikultura
Provinsi Sulawesi Barat pada dasarnya merupakan daerah agraris yang sebagian besar kehidupan masyarakat bertumpu pada usaha dibidang pertanian. Potensi pertanian yang besar dan kesesuaian agroklimat yang mendukung serta kultur masyarakatnya yang agraris, merupakan modal dasar untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan yang berbasis pada pembangunan pertanian, melalui program peningkatan ketahanan pangan daerah, peningkatan nilai tambah dan daya saing komoditas pertanian serta peningkatan kesejahteraan petani.

Potensi pertanian yang telah dikelola sebesar 274.401 Ha yang terdiri dari lahan kering 219.727 Ha, lahan sawah tadah hujan 25.985 Ha, irigasi desa 14.393 Ha, Irigasi 1/2 teknis 3.013 Ha dan irigasi teknis 11.283 Ha serta lahan potensial untuk percetakan sawah baru seluas 20.600 Ha.

Produksi komoditas potensial yang telah dicapai antara lain : padi 348.859 ton GKP, jagung 14.616 ton, ubi jalar 9.216 ton, kacang tanah 896 ton, kedele 970 ton, kacang hijau 1.487 ton, ubi kayu 68.624 ton, sayuran 2.499 ton dan buah-buahan antara lain : jeruk 109.483 ton, rambutan 17.378 ton, manggis 13,8 ton, durian 81.595 ton dan markisa 63,4 ton.

* Potensi Peternakan
Pengembangan dan peningkatan usaha peternakan di Propinsi Sulawesi Barat dapat dilihat dari potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan pasar. Potensi sumber daya alam sangat mendukung kegiatan pengembangan usaha peternakan, misalnya kegiatan budidaya ternak, pengembangan ternak, pengelolaan pasca panen. Tersedianya lahan kering (218.363 Ha), lahan basah (56.038 Ha) dapat dijadikan lahan pengembangan peternakan dan sebagai sumber hijauan makanan ternak.

6) Potensi Pertambangan
Komoditi pertambangan yang menjadi produk unggulan yaitu minyak dan gas bumi, batubara, emas, biji besi, zeolit, feldspar, kaolin dan pasir kuarsa serta bahan bangunan golongan C (sirtu, batu gunung, dll).

7) Industri
Industri unggulan yang dikembangkan adalah industri kapal/ perahu tradisional, industri minyak kelapa dalam, industri kelapa sawit (CPO), tenun sutra mandar, tenun ikat sekomende, rotan polis, industri furniture kayu hitam dan industri pengolahan rumput laut.

b. Pertumbuhan Ekonomi/PDRB
Perkembangan ekonomi Provinsi Sulawesi Barat dari Tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 terus membaik. Hal ini ditunjukkan dengan angka PDRB (atas dasar harga berlaku) yang selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2010, nilainya telah mencapai sekitar Rp. 9.484.834 Milyar Rupiah atau terjadi peningkatan sekitar 0.96 % bila dibandingkan dengan keadaan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa sumbangan Sulawesi Barat terhadap perekonomian Nasional relatif masih sangat kecil.

Perlu diketahui bahwa Provinsi Sulawesi Barat pada Tahun 2010 di Semester I mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi Nasional bahkan dunia. Pada saat itu pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat mencapai 15,09 %, jauh diatas pertumbuhan ekonomi rata-rata nasional yang berada pada angka 1 digit yaitu 5,95 %.

Program Pembangunan

Program Pembangunan Sulawesi Barat

Peluang Investasi

Peluang Investasi Sulaewesi Barat

Perdagangan dan Industri

Perdagangan dan Industri Sulawesi Barat

Indikator Ekonomi

Indikator Ekonomi Sulawesi Barat

  Indikator Satuan September 2012 Oktober 2012 November 2012
1 Simpanan Rp. Juta 2,761,518 2,780,427 2,832,979
  - Giro Rp. Juta 898,711 861,050 883,740
  - Tabungan Rp. Juta 1,654,552 1,706,437 1,734,643
  - Simpanan Berjangka Rp. Juta 208,255 212,940 214,596
2 Pinjaman yang diberikan Rp. Juta 4,128,213 4,209,294 4,277,675
  - Modal Kerja Rp. Juta 1,384,592 1,392,827 1,391,769
  - Investasi Rp. Juta 559,585 578,820 596,752
  - Konsumsi Rp. Juta 2,184,036 2,237,647 2,289,154
3 Kredit UMKM Rp. Juta 1,521,310 1,547,985 1,554,006
  - Mikro Rp. Juta 525,944 536,898 543,454
  - Kecil Rp. Juta 849,320 859,888 858,728
  - Menengah Rp. Juta 146,046 151,199 151,824
4 Ekspor Non Migas        
  - Nilai USD ribu   *  
  - Volume ton   *  
5 Impor Non Migas        
  - Nilai USD ribu   *  
  - Volume ton   *  
6 Harga-harga Kota Mamuju        
  - IHK      
  - Inflasi (mtm) %    
Keterangan :
  • Sumber Data : Bank Indonesia (data Simpanan dan Pinjaman), Badan Pusat Statistik (IHK dan PDRB), Ditjen Bea dan Cukai (Ekspor      dan Impor Nonmigas)
  • * Angka sementara
  • ** Angka sangat sementara
  • Data Ekspor dan Impor Nonmigas Provinsi Sulawesi Barat digabung dengan Provinsi Sulawesi Selatan

APBD dan PDRB

Pertumbuhan Ekonomi/PDRB

Perkembangan ekonomi Provinsi Sulawesi Barat dari Tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 terus membaik. Hal ini ditunjukkan dengan angka PDRB (atas dasar harga berlaku) yang selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2010, nilainya telah mencapai sekitar Rp. 9.484.834 Milyar Rupiah atau terjadi peningkatan sekitar 0.96 % bila dibandingkan dengan keadaan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa sumbangan Sulawesi Barat terhadap perekonomian Nasional relatif masih sangat kecil.

Perlu diketahui bahwa Provinsi Sulawesi Barat pada Tahun 2010 di Semester I mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi Nasional bahkan dunia. Pada saat itu pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat mencapai 15,09 %, jauh diatas pertumbuhan ekonomi rata-rata nasional yang berada pada angka 1 digit yaitu 5,95 %.

Sulawesi Tenggara

Peta Sulawesi Tenggara

Provinsi Sulawesi Tenggara pada zaman penjajahan hingga terbentuknya Kabupaten Sulawesi Tenggara pada tahun 1952 adalah suatu Afdeling, yaitu Afdeling Boeton Laiwui dengan pusat Pemerintahannya di Bau-Bau. Afdeling Boeton Laiwui tersebut terdiri dari :

  1. Onder – Afdeling Boeton
  2. Onder – Afdeling Muna
  3. Onder – Afdeling Laiwui

Onder Afdeling Kolaka pada waktu itu berada di bawah Afdeling Luwu (Sulawesi Selatan), kemudian dengan Peraturan Pemerintah No. 34 tahun 1952 Sulawesi Tenggara menjadi satu Kabupaten, yaitu Kabupaten Sulawesi Tenggara dengan Ibu Kota Bau-Bau. Kabupaten Sulawesi tenggara tersebut meliputi wilayah-wilayah bekas Afdeling Boeton Laiwui serta bekas Onder Afdeling Kolaka dan menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan Tenggara dengan pusat pemerintahannya di Makassar (Ujung Pandang). Selanjutnya dengan Undang-Undang No.29 Tahun 1959 Kabupaten Sulawesi Tenggara dimekarkan menjadi empat Kabupaten Daerah Tingkat II, yaitu :

  1. Kabupaten Daerah Tingkat II Buton Ibu Kotanya Bau-Bau
  2. Kabupaten Daerah Tingkat II Muna Ibu Kotanya Raha
  3. Kabupaten Daerah Tingkat II Kendari Ibu Kotanya Kendari
  4. Kabupaten Daerah Tingkat II Kolaka Ibu Kotanya Kolaka

Keempat Daerah Tingkat II tersebut merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara. Betapa sulitnya komunikasi perhubungan pada waktu itu antara Daerah Tingkat II se Sulawesi Selatan Tenggara dengan pusat pemerintahan Provinsi di Ujung Pandang, sehingga menghambat pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan maupun pelaksanaan tugas pembangunan. Disamping itu, gangguan DI/TII pada saat itu sangat menghambat pelaksanaan tugas-tugas pembangunan utamanya di pedesaan.

Daerah Sulawesi Tenggara terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan yang cukup luas, mengandung berbagai hasil tambang yaitu aspal dan nikel, maupun sejumlah bahan galian lainnya. Demikian pula potensi lahan pertanian cukup potensial untuk dikembangkan. Selain itu terdapat pula berbagai hasil hutan berupa rotan, damar serta berbagai hasil hutan lainnya. Atas pertimbangan ini tokoh-tokoh masyarakat Sulawesi Tenggara membentuk Panitia Penuntut Daerah Otonom Tingkat I Sulawesi Tenggara.

Tugas Panitia tersebut adalah memperjuangkan pembentukkan Daerah Otonom Sulawesi Tenggara pada pemerintah Pusat di Jakarta. Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, cita-cita rakyat Sulawesi Tenggara tercapai dengan keluarnya Perpu No.2 3 Tahun 1964 Juncto Undang-undang No.13 tahun 1964 Sulawesi Tenggara di tetapkan menjadi Daerah Otonom Tingkat I dengan Ibu Kotanya Kendari.

Realisasi pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dilakukan pada tanggal 27 April 1964, yaitu pada waktu dilakukannya serah terima wilayah kekuasaan dari Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tenggara, Kolonel Inf.A.A Rifai kepada Pejabat Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, J.Wajong. Provinsi Sulawesi Tenggara hingga tahun 2006 terdiri atas 8 (delapan) daerah kabupaten dan 2 (dua) daerah kota.

Produk Unggulan

Produk Unggulan Sulawesi Tenggara

Peluang Investasi

Peluang Investasi Sulawesi Tenggara

Program Pembangunan

Program Pembangunan Sulawesi Tenggara

Perdagangan dan Industri

Perdagangan dan Industri Sulawesi Tenggara

Indikator Ekonomi

Indikator Ekonomi Sulawesi Tenggara

  Indikator Satuan September 2012 Oktober 2012 November 2012
1 Simpanan Rp. Juta 9,895,636 9,802,788 9,937,064
  - Giro Rp. Juta 2,683,497 2,409,387 2,425,277
  - Tabungan Rp. Juta 5,321,636 5,485,270 5,595,690
  - Simpanan Berjangka Rp. Juta 1,890,503 1,908,131 1,916,097
2 Pinjaman yang diberikan Rp. Juta 11,892,669 12,052,438 12,218,470
  - Modal Kerja Rp. Juta 4,016,186 4,055,200 4,072,906
  - Investasi Rp. Juta 1,390,340 1,400,819 1,434,836
  - Konsumsi Rp. Juta 6,486,143 6,596,419 6,710,728
3 Kredit UMKM Rp. Juta 3,357,060 3,534,327 3,583,158
  - Mikro Rp. Juta 749,948 771,708 773,977
  - Kecil Rp. Juta 1,583,381 1,625,967 1,686,313
  - Menengah Rp. Juta 1,023,731 1,136,652 1,122,868
4 Ekspor Non Migas        
  - Nilai USD ribu 50,427,723 86,891,711* 131,598,691**
  - Volume ton 1,079,543,710 1,959,411,790* 3,855,566,935**
5 Impor Non Migas        
  - Nilai USD ribu   *  
  - Volume ton   *  
6 Harga-harga Kota Kendari        
  - IHK      
  - Inflasi (mtm) %    
Keterangan :
  • Sumber Data : Bank Indonesia (data Simpanan dan Pinjaman), Badan Pusat Statistik (IHK dan PDRB), Ditjen Bea dan Cukai (Ekspor      dan Impor Nonmigas)
  • * Angka sementara
  • ** Angka sangat sementara

APBD dan PDRB

APBD dan PDRB Sulawesi Tenggara

Sulawesi Selatan

Peta Sulawesi SelatanSebelum Proklamasi RI, Sulawesi Selatan, terdiri atas sejumlah wilayah kerajaan yang berdiri sendiri dan didiami empat etnis yaitu ; Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja.

Setelah kemerdekaan, dikeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950 dimana Sulawesi Selatan menjadi propinsi Administratif Sulawesi dan selanjutnya pada tahun 1960 menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara berdasarkan UU Nomor 47 Tahun 1960. Pemisahan Sulawesi Selatan dari daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara ditetapkan dengan UU Nomor 13 Tahun 1964, sehingga menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan .

Sulawesi Selatan resmi menjadi daerah otonom dan terus disempurnakan dengan ditetapkannya UU No. 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah yang menggabungkan wilayah administratif daerah-daerah otonom dalam satu penyebutan yaitu Daerah Tingkat II atau Kotamdya dan Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Selanjutnya Propinsi daerah Tingkat I Sulawesi Selatan. Yang sangat berarti adalah perubahan nama ibukota Propinsi sulawesi Selatan dari makassar ke Ujung Pandang yang ditetapkan dalam PP Nomor 51 tahun 1971 Lembaran negara Republik Indonesia Nomor 65 tahun 1971.  Dan saat ini kembali menggunakan Makassar sebagai ibu kotanya.

KONDISI EKONOMI :

Ekonomi Sulsel bertumbuh 7,78 persen pada tahun 2008 dan tumbuh sebesar 6,20 persen tahun 2009 atau 7,34 persen (tanpa nikel);Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I tahun 2010 mencapai 7,77 persen dan diperkirakan pada Triwulan II mencapai 8,02 persen;PDRB tahun 2009 (ADHK) sebesar Rp 47,31 Triliun dan 99,90 Triliun (ADHB);Pendapatan Perkapita Rp 12,63 Juta pada tahun 2009

KONDISI SOSIAL :

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulawesi Selatan tahun 2008 mencapai 70,22;Angka Harapan Hidup 69,60 tahun 2008;Penduduk miskin 12,31 persen tahun 2009 yang berjumlah 963,6 ribu;Tingkat Pengangguran 8,90 persen pada tahun 2009 yang berjumlah 296.559 orang.

PROGRAM GRATIS

Pendidikan Gratis bagi Murid SD s/d SMP
Kesehatan Gratis
Program Pencapaian Surplus Beras 2.100.000 Ton dan Pencapaian Produksi Jagung 1.575.000 Ton
Gerakan Pencapaian Populasi Sapi 1 Juta Ekor
Gerakan Pemulihan Produksi dan Kualitas Kakao 300.000 Ton
Gerakan Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat 25,962 Ha
Pembentukan Kesatuan Wilayah Pengelolaan Hutan
Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan
Gerakan Kebangkitan Udang 33.200 Ton dan Rumput Laut 759.291,2 Ton
Gerakan 3.000 Tenaga Kerja Indonesia

Produk Unggulan

Propinsi Sulawesi Selatan mempunyai produk/komoditi ungulan yang selama ini menjadi primadona dan komoditi ekspor sebagai berikut:

Perkebunan
  • Kakao
    Produksi Perkebunan Kakao untuk Tahun 2006 terdiri dari Produksi Perkebunan Rakyat :142.392 Ton, Produksi Perkebunan Negara : 147 Ton, Produksi Perkebunan Swasta : 1.994 Ton, Untuk Tahun 2009 terdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat :163.001 Ton, Produksi Perkebunan Swasta : 1.443 Ton, Untuk tahun 2010 terdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat :172.083 Ton, Produksi Perkebunan Swasta : 1.472 Ton
    Produksi Tahunan:
    Tahun 2006 : 144.533 Ton
    Tahun 2007 : ( Data tidak tersedia)
    Tahun 2008 : ( Data tidak tersedia)
    Tahun 2009 : 164.444 Ton
    Tahun 2010 : 173.555 Ton
  • Kelapa
    Produksi Perkebunan Kelapa untuk Tahun 2006 terdiri dari Produksi Perkebunan Rakyat :87.516 Ton, Produksi Perkebunan Swasta : 189 Ton, Untuk Tahun 2009 terdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat :88.295 Ton, Produksi Perkebunan Swasta : 162 Ton, Untuk tahun 2010 Hasil Penjumlahan Antara Kelapa Dalam dengan Kelapa Hibrida terdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat :83.565 Ton, Produksi Perkebunan Swasta : 159 Ton.
    Produksi Tahunan:
    Tahun 2006 : 87.705 Ton
    Tahun 2007 : ( Data tidak tersedia)
    Tahun 2008 : ( Data tidak tersedia)
    Tahun 2009 : 88.458 Ton
    Tahun 2010 : 83.724 Ton
  • Kopi
    Produksi Tahunan:
    Tahun 2006 : 30.257 Ton
    Tahun 2007 : ( Data tidak tersedia)
    Tahun 2008 : ( Data tidak tersedia)
    Tahun 2009 : 31.964 Ton
    Tahun 2010 : ( Data tidak tersedia)
Pertanian
  • Padi
    Tahun 2006 : ( Data tidak tersedia)
    Tahun 2007 : ( Data tidak tersedia)
    Tahun 2008 : 3.635.139 Ton
    Tahun 2009 : 4.083.356 Ton
    Tahun 2010 : 4.324.174 Ton
  • Jagung
    Produksi Tahunan:
    Tahun 2007 :    119.324 Ton
    Tahun 2008 :    969.956 Ton
    Tahun 2009 : 1.195.064 Ton
    Tahun 2010 : 1.395.742 Ton

Peluang Investasi

PELUANG INVESTASI

Sulawesi Selatan adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan Sulawesi. Ibu kotanya adalah Makassar, dahulu disebut Ujungpandang. Dengan mayoritas penduduk suku bugis-makassar telah menjadikannya legenda dari peradaban di Indonesia. Struktur penduduk yang terkenal dengan karakter pekerja keras yang telah mengakar dari orang-orang bugis-makassar menempatkannya sebagai perantau dan pelaut-pelaut ulung di Nusantara. Sebagai titik sumbu pertumbuhan ekonomi dari kawasan indonesia timur, Sulawesi Selatan memiliki infrastruktur yang paling modern dan lengkap. Dengan bandara Sultan Hasanuddin yang menjadi hub utama ke Indonesia timur dan melayani penerbangan internasional tujuan makassar-kuala lumpur (malaysia) dan makassar-changi (singapura) serta pelabuhan soekarno hatta yang dilengkapi pelabuhan peti kemas yang berskala internasional menempatkan posisi sulawesi selatan sebagai pusat pertumbuhan pembangunan di luar pulau jawa dan pusat distribusi serta interkoneksi perhubungan darat dan laut.

Dengan Core bisnis pada sektor agrobisnis, khususnya rumput laut, beras dan kakao dan sektor pertambangan serta berbagai komoditas andalan pada bidang perkebunan dan perikanan menempatkan Sulawesi Selatan sebagai daerah dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi 8-9 %. Sebagai tujuan investasi di luar pulau jawa, Sulsel kedepannya telah dan akan dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana penunjang investasi diantaranya monorail Gowa-makassar-maros, kereta api makassar-pare pare, kawasan bisnis center point of bisnis, Pelabuhan ikan untia, dan Perluasan pelabuhan peti kemas soekarno hatta. (Sumber:  Badan Penanaman Modal Indonesia)

Sulawesi Selatan merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang memiliki nilai strategis dalam konstalasi pembangunan Indonesia. Selain memiliki sumberdaya alam yang cukup besar, khususnya di bidang Pertanian, Pertambangan dan Pariwisata. Dengan letak strategis ditengah-tengah Indonesia dan menjadi pintu gerbang sekaligus berfungsi sebagai pusat pelayanan Kawasan Timur Indonesia. Oleh karena itu Sulawesi Selatan memiliki keunggulan komparatif sekaligus kompetitif untuk kegiatan investasi.

Adapun Keunggulan untuk Berinvestasi di Sulawesi Selatan yaitu :

  1. Posisi yang strategis secara ekonomi sehingga berperan sebagai pusat pelayanan angkutan udara dan laut di Kawasan Timur Indonesia dan Pusat pelayanan jasa perdagangan, industri serta perbankan.
  2. Wilayah yang relatif aman bagi kegiatan investasi di Indonesia, dimana gejolak masyarakat dan komunitas buruh relatif rendah.
  3. Keanekaragaman potensi sumberdaya alam untuk investasi. Ketersediaan infrastruktur wilayah yang memadai bagi kegiatan investasi.
  4. Kawasan Timur Indonesia sebagai pasar potensial yang belum termanfaatkan secara maksimal
  5. Komitmen Pemerintah Daerah yang sangat kuat dalam memberikazn kemudahan bagi Investor
  6. Ketersediaan Sumberdaya manusia yang berkualitas
  7. Ketersediaan lahan yang masih luas dan relatif murah
Informasi Umum (Semester 1 2011)
Luas Areal : 45.764,53 km2 terdiri dari 24 Kab/Kota
Populasi : 8.07 Juta Jiwa
Angkatan Kerja : 3,91 Juta Jiwa
PDRB ADHB : 126,20 triliun (rupiah)
Pertumbuhan Ekonomi : 7,78 %
Pendapatan Perkapita : 15,84 Juta (rupiah)
Investasi : 28,83 triliun (rupiah)
Peredaran Uang di Sulsel : 100 triliun (rupiah)

 

Infrastruktur
Bandara Internasional : Sultan Hasanuddin
Panjang Runway 3.100 m
Pelabuhan Penumpang dan Peti Kemas : Soekarno Hatta
Kapasitas terminal peti kemas 600.000 TEUs
Panjang Jalan : 35.461,77 Km
Kawasan Industri : KIMA Makassar
322 Ha
Kawasa Pengembangan Ekonomi Terpadu : Kapet Pare Pare
6.905,08 km²

Sulawesi selatan terletak dibagian selatan pulau Sulawesi yang mempunyai beraneka ragam sektor bisnis yang potensial untuk para Investor baik domestik maupun Investor asing seperti :

SEKTOR PERTANIAN

Sub sektor Tanaman Pangan
Penanaman dan prosessing dari : jagung kuning, kentang, buncis, buah-buahan, bawang putih, bawang merah, jamur, tanaman advokat (mangga, durian, pisang, dll.)

Sub sektor Perkebunan
a. Kakao, kurang lebih 70 % produk ekspor Indonesia berasal dari Sulsel.
    Produksi Kakao                   : 282 692 Ton
    Luas wilayah perkebunan :296.039 Ha milik petani perseorangan
    Lokasi pengembangan     : Kab.Luwu, Luwu Utara dan Luwu Timur.
b. Kopi arabika, yang hampir seluruhnya di ekspor ke luar negeri.
    Produksi  Kopi Arabika      : 19.611 Ton
    Luas Tanam                        : 52.341 Ha
    Lokasi Perkebunan            : Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Tana Toraja.
c. Kopi robusta, hampur seluruhnya di olah di dalam negeri.
    Produksi                            : 29.414 Ton
    Luas Lahan                       : 60.201 Ha
    Lokasi Pengembangan  : Kabupaten Toraja, Bulukumba, Sinjai dan Pinrang.
d. Kelapa sawit
    Produksi                             : 237.437 Ton
    Luas Areal                          : 27.511 Ha
    Lokasi Pengembangan  : Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Wajo.
e. Jambu Mete
    Produksi                             : 31.819 Ton
    Luas Areal                          : 74.732 Ha
    Lokasi Pengembangan  : Kabupaten Bone, Pangkep, Sidrap, Bulukumba
    dan Pinrang
f. Cengkeh
   Produksi                              : 21.673 Ton
   Luas Areal                           : 48.652 Ha
   Lokasi Pengembangan   : Kabupaten Luwu, Sinjai, Bone dan Bulukumba.
   
Sub sektor Perikanan
Penangkapan dan prosessing dari : ikan tongkol/cakalang, ikan air tawar, udang, ikan aquarium, tanaman laut, karang, kepiting, katak, siput, cumi-cumi dll.

Sub sektor Peternakan
Pemeliharaan dan Management dari : sapi, kerbau, pemotongan hewan, pemrosesan makanan, unggas petelur, produksi makanan hewan, pemeliharaan unggas, kambing dan domba, pemprosesan produk binatang (kulit, tulang, dan tanduk)

Sub sektor Kehutanan
Proses pemeliharaan dan manajemen dari :

  1. Hutan Tanaman Industri
  2. Hutan Rotan
  3. Kain Sutera
  4. Binatang liar seperti : kijang, buaya dll.
  5. Lebah penghasil madu
  6. Industri kayu dan kerajinan
  7. Industri rotan dan mebel
  8. Kupu-kupu


SEKTOR PERTAMBANGAN

Tambang Metal
Emas, sepuh, timah, tembaga, dan besi
Tambang Non Metal
Asbes, porselin, batu hitam, batu permata, batu kapur, pasir, dll.
Tambang sumber Energi
Oli dan gas, panas bumi, radio aktif, air, minyak bumi dll.

SEKTOR INDUSTRI

Mesin, Logam, dan Elektronik

  1. Pengerjaan Logam
  2. Industri Logam dan Bangunan
  3. Industri Kendaraan Motor
  4. Industri Semen
  5. Industri Gelas
  6. Industri Batu Bara
  7. Industri Sari Buah
  8. Industri Perikanan


Industri Lain

  1. Industri Tepung Ubi Kayu
  2. Industri Makanan Ternak
  3. Industri Makanan Udang
  4. Industri Coklat
  5. Industri Buah-buahan
  6. Pengolahan Kacang Mende
  7. Pengolahan Sayuran dan Buah-buahan
  8. Industri Batu Bara Aktif
  9. Industri Serat Kelapa
  10. Pengolahan Makanan
  11. Pengolahan dan Pemeliharaan Produk Laut
  12. Industri Kulit
  13. Pengolahan Rumput Laut dan Tanaman Laut
  14. Industri Kertas dan Kartun
  15. Industri Kulit Buatan
  16. Industri Seman
  17. Industri Marmer/Pualan dan Gips
  18. Industri porselin
  19. Sutera Alam
  20. Pabrik Sagu
  21. Industri Rotan
  22. Industri dan Pabrik Bambu

Program Pembangunan

Program Pembangunan Sulawesi Selatan

Perdagangan dan Industri

Perdagangan dan Industri Sulawesi Selatan

Indikator Ekonomi

Indikator Ekonomi Sulawesi Selatan

  Indikator Satuan September 2012 Oktober 2012 November 2012
1 Simpanan Rp. Juta 50,193,878 51,078,108 52,052,738
  - Giro Rp. Juta 7,246,197 7,300,838 7,644,151
  - Tabungan Rp. Juta 28,542,718 28,920,655 29,448,281
  - Simpanan Berjangka Rp. Juta 14,404,963 14,856,615 14,960,306
2 Pinjaman yang diberikan Rp. Juta 66,128,239 67,459,208 68,761,406
  - Modal Kerja Rp. Juta 24,756,604 25,224,108 27,110,810
  - Investasi Rp. Juta 12,657,926 12,888,649 11,719,854
  - Konsumsi Rp. Juta 28,713,709 29,346,451 29,930,742
3 Kredit UMKM Rp. Juta 17,753,809 18,177,239 18,311,830
  - Mikro Rp. Juta 3,648,211 3,654,625 3,606,534
  - Kecil Rp. Juta 7,941,387 8,016,576 8,141,544
  - Menengah Rp. Juta 6,164,211 6,506,038 6,563,752
4 Ekspor Non Migas        
  - Nilai USD ribu 154,651,603 144,308,189* 138,536,413**
  - Volume ton 61,686,415 82,849,238* 82,709,143**
5 Impor Non Migas        
  - Nilai USD ribu 39,209,522 64,926,311* 37,628,220**
  - Volume ton 51,677,272 70,980,029* 70,682,404**
6 Harga-harga Kota Makassar        
  - IHK      
  - Inflasi (mtm) %    
7 Harga-harga Kota Watampone        
  - IHK      
  - Inflasi (mtm) %    
8 Harga-harga Kota Pare Pare        
  - IHK      
  - Inflasi (mtm) %    
9 Harga-harga Kota Palopo        
  - IHK      
  - Inflasi (mtm) %    
Keterangan :
  • Sumber Data : Bank Indonesia (data Simpanan dan Pinjaman), Badan Pusat Statistik (IHK dan PDRB), Ditjen Bea dan Cukai (Ekspor      dan Impor Nonmigas)
  • * Angka sementara
  • ** Angka sangat sementara
  • Data Ekspor dan Impor Nonmigas Provinsi Sulawesi Barat digabung dengan Provinsi Sulawesi Selatan

APBD dan PDRB

PDRB  menurut Lapangan Usaha di Sulsel atas dasar Harga Berlaku (juta Rupiah)
2002-2006

Lapangan Usaha  2002  2003  2004  2005*)  2006**) 
Pertanian 12.610.103,44   13.407.980,24  14.124.240,61 16.188.361,00  18.513.257,30 
Pertambangan & Penggalian 2.377.568.63   2.998.315,39  3.957.326,65 4.714.272,81  5.249.991,10 
Industri Pengolahan  4.877.488,82  5.499.369,20 6.248.763,09  7.173.863,57  8.245.336,39 
Listrik, Gas, Air bersih 412.745,46  462.194, 07 483.279,58  548.871,10  629.314,57 
Bangunan 1.599.776,62 1.798.661,94  2.1942.057,08  247.266,42  2.709.792,42
Perdagangan, Restoran dan Hotel 5.322.597,69  6.003.399,96   6.815.444,62 7.880.008,59   9.507.866,45
Angkutan & Komunikasi 2.354.826,98  2.772.065,41  3.263.229,29  4.007.928,03  5.102.836,94
Keuangan, persewaan & jasa perusahaan  1.536.323,16  1.971.831,18 2.734.733,45   3.096.673,36  3.675.192,88
Jasa-Jasa 4.252.996,85  4.500.841,62  4.975.458,22  5.725.197,64   7.182.235,
Produk Domestik Bruto 35.344.427,65   39.414.659,01 44.744.532,59   51.780.422,52  60.902.823,80
Produk Domestik Bruto tanpa migas  35.267.406,91 39.335.319,94   44.659.949,93 51.650.599,26   60.756.420,07

Cat. : * Angka sementara
         ** Angka sangat sementara

(sumber : www.sulsel.bps.go.id )